Jumat, 18 November 2011

Tonjokkan Anakku

M.Jei

Benar sekali ungkapan "banyak omong, banyak salah". Ini terjadi pada diri saya sendiri. Sebagai orang tua atau sebagai apapun tentu mengharapkan anak atau orang lain menginginkan kebaikan. Wajar dan normal saja bukan. Di atas meja belajar anak saya, saya tempel yang saya sebut 7 nilai dasar kehidupan yaitu Jujur-disiplin-tanggung jawab-visioner-kerjasama-adil-peduli. Dan sering sekali saya minta untuk disebutkan, sambil saya ngomong panjang lebar penjabarannya.

Tadi malam sedang asyik-asyiknya nonton sepakbola Indonesia Malaysia, dalam kondisi badan yang lelah, dan sayapun masih pakai kaos singlet ada tamu datang, biasa orang mlm. Saya tentu malas sekali menerimanya, udh beberapa kali datang dan lama bertamunya. Saya bilang ke anak saya, mas Tafa coba liat kedepan dan bilang pada tamu papa sudah tidur. Apa jawab anak saya? Nggak mau ah, katanya suruh jujur, nggak boleh bohong, piye malah nggak tahu 7 nilai dasar. Makdhiek...rasanya seperti kena tonjokan Mike Tyson.

Kejadian yang lain, anak kedua saya garuk-garuk kaki terus kemaren pagi, saya lihat ternyata bentol-bentol. Saya tanya istri ... ee malah anak saya pertama yg menjawab, itu karena tadi adik pipis hanya digantiin celana aja tidak dicuci kakinya oleh papa, khan tadi adik ngepel di lantai dengan pipisnya. Makklontang...seperti dilempar kaleng bekas. Istriku di pojokkan hanya senyum-senyum saja melihat suaminya diledekin sama anaknya. Rupanya kebiasaan istri saya jika habis pipis pasti dicebokin dan dibersihkan semuanya baru digantiin celana.

Terimakasih nak, kamu telah mengajarkan nilai kepada orangtuamu. Ucapanmu melebihi kerasnya pukulan Mike Tyson pasti, telak mendarat di dada orang tuamu.

Minggu, 11 September 2011

Kesemp-atan Bertubi-tubi Datang

Yth. para guruku, pelatihku, seniorku, adikku, dan sobat hebatku.

Seringkali terdengar bahwa "kesempatan itu tidak datang 2 kali". Apakah ini betul?

Tergantung! jawab saya.

Pertama bisa benar, krn berlarut dalam penyesalan yg mendalam dan akhirnya diam saja tanpa berbuat apa-apa hanya menunggu keajaiban turun. Persis seperti Jaka Tarub yg tidak jadi mengambil selendang bidadari yg sedang mandi di sungai yg sama. Tentu bidadarinya sudah tahu kalau Jaka Tarub nongkrong di sungai itu. Hal ini dimungkinkan mas Jaka Tarub tidak mempersiapkan apapun dalam meraih kesempatan itu, tempat persembunyiannya tdk dia survey, belum memiliki teknik menghilang dst. Pendek kata ternyata mas Jaka tdk siap mengambil kesempatan. Maka begitu datang kesempatan, sirna sudah.

Yang kedua Ini salah besar. Kesempatan dan peluang akan selalu datang bertubi-tubi bagi orang yg memang mengupayakan. Barangkali kesempatan itu berubah bentuk, yang intinya adanya perubahan ke arah yg lebih baik. Cari dan cari terus kesempatan, pasti tidak lama lagi akan datang.

Pepatah di atas, sebagai pengingat bahwa apapun kondisinya sebagai manusia harus selalu tanggap dan siap mengambil terhadap kesempatan secara optimal. Karena Jaka Tarub telah mempersiapkan tempat persembunyian untuk mengintip dan sedikit penguasaan ilmu gendam, maka kesempatan datang untuk mengambil selendang dpt dioptimalkan.

Ternyata kesempatanpun bisa diciptakan. Keoptimisan dan keyakinan ditambah tindakan, kt para bijak itu rumusnya.

Yuk ciptakan peluang dan optimalkan.

Senangnya berbagi.

Sabtu, 09 April 2011

Nothing Is Impossible

Nothing Is Impossible
M. Jei

Tadi malam saya mendapatkan pelajaran berharga dari salah satu pelatih saya. Nothing Is Impossible. Saya suka sekali dengan kalimat itu. Ya .... Nothing Is Impossible. Kenapa? Karena setiap mengalami kesulitan, kata-kata itu bagai BBM untuk sebuah mobil, bagai meminum air di tengah gurun pasir. Begitu dahsyat dan begitu hebat pengaruhnya. Memang manusia kadang naik kadang kendor, namun dengan selalu meminum vitamin kata-kata Nothing Impossible rasanya semangat akan selalu terjaga, bahkan akan selalu menyala semakin terang. Seperti halnya orang Jepang yang selalu bilang Gambate Neh (saya tidak tahu tulisannya bener apa nggak ..he..he... ), Gajah Mada dengan sumpah Palapanya dan lain-lain, menggambarkan semangat sesulit apapun hambatan dalam mencapai tujuan, bukan berarti itu mustahil tetapi semuanya bisa menjadi kenyataan.

Tapi kenapa ya kok kita itu mudah mengeluh? Saya kadang berfikir, apakah karena selama ini ada kekeliruan mengartikan ungkapan-ungkapan yang sering kita dengar, sehingga ada ketakutan untuk melangkah? Mulai dari ungkapan yang berbentuk bahasa Indonesia atau Bahasa Lain. Sebut saja, Bagai Pungguk Merindukan Bulan, “mbok ngilo githokmu dhewe”. Ungkapan ini harus dimaknai sebagai evaluasi diri tentang kelemahan-kelemahan dan kelebihan-kelebihan, maupun cara-cara yang telah dilakukan, setelah mengerti tancap gas lagi untuk bertindak, begitu seterusnya.

Barangkali sering terdengar juga contoh-contoh, dengan semangat Nothing Impossible, menghasilkan karya yang spektakuler di dunia ini. Bagaimana Wright bersaudara menciptakan kapal terbang, bagaimana Bill Gates memformulasikan bahwa komputer akan menkadi kebutuhan manusia sehari-hari dll. Tidak usah jauh-jauh, kitapun bisa menganalisa diri sendiri, kira-kira hal apakah dalam hidup ini yang sebelumnya orang mengatakan itu mustahil tapi Anda bisa membuktikan, saya yakin ada. Kalau dulu bisa mestinya sekarangpun bisa, bahkan sangat bisa. Nothing Impossible.

Selamat mencari semangat Nothing Is Impossible dalam diri.