Sabtu, 31 Juli 2010

Negeri Terpercaya Meski Minim Sumber Daya


Catatan cantik seorang sahabat "Anang Yunianto"

Dear friends,

Dalam kesempatan perjalanan bersama banyak kolega 2 minggu lalu ke 2 kota ( Beijing, Shanghai) di negara yang saat ini secara de facto adalah penguasa ekonomi dunia ( baca: China ), kami harus transit terlebih dahulu di sebuah negeri kota yang sudah sangat terkenal yakni Singapura. Selama waktu transit sekitar 3 jam kami gunakan untuk melihat-lihat dan mengagumi keindahan arsitektur, tata letak, kelengkapan sebuah tempat yg sejatinya adalah terminal pesawat tetapi bak sebuah mall yang di negeri kita saja belum pernah saya jumpai megahnya. Meski sudah beberapa kali singgah disana tetapi tetap saja keindahan – kerapihan – kelengkapan - keteraturannya senantiasa terus mengundang kekaguman saya.

Bagi sebagian besar kita, sudah sangat mahfum bahwa negeri singa ini sangat dikenal sebagai salah satu pusat atau juga hub (penghubung) perdagangan dunia. Terlihat berbagai kantor perwakilan perusahaan top dunia ( Multi National Corporations ) bercokol disana. Belum lagi sederetan gedung galeri dari merek-2 favourite tergelar di sepanjang jalan yg dikenal Orchad Road. Kota ini sangat rapi – bersih dan di huni oleh orang-orang yang memiliki disiplin tinggi. Kitapun mengenal joke bahwa orang-2 Indonesia yang biasanya sulit untuk berlaku disiplin, tetapi begitu masuk kota ini langsung berubah menjadi orang yang sangat disiplin luar biasa. Bisa jadi karena takut akan denda atau karena malu dilihat sebagai mahkluk asing mirip Tarzan masuk kota.

Diantara segudang cerita tentang kehebatan negeri kota itu, satu hal yang ingin saya ceritakan kali ini dan makin menambah kekagumam saya kepada negeri ini adalah tentang bisa dipercayanya warga negeri ini.
Ceritanya, sewaktu balik kembali dari Shanghai dan transit kembali di Changi Airport Singapura, saya dan ke-3 kolega sengaja menyusur terminal 3 menuju terminal 2 dengan berjalan kaki sepanjang lorong bandara (yang semestinya bisa dengan naik kereta listrik shuttle). Karena sudah masuk jadwal lunch, maka kami mampir di food court di terminal 1 yang terletak diantara terminal 3 dan 2. Di tempat yang berada di lantai 2 tersebut kami langsung menyerbu stand yang menjual masakan Indonesia disana yakni Nasi Padaang. Sambil duduk bercengkerama menikmati masakan yang terasa nikmat setelah beberapa hari tidak merasakan masakan Indonesia, saya letakkan tas kecil saya yang berisi passport, tiket Singapura-Jakarta, handycam dan beberapa dokumen lain dengan menggantungkannya di sandaran pendek kursi saya. Selesai makan kami kembali menyusuri lorong etalase mewah menuju terminal 2 dengan sesekali masuk toko melihat-lihat dan membandingkan harga produk yang dijual disana. Ada yang cocok dan saya beli untuk souvenir keluarga.

Setelah berjalan sekitar 20 menit dari foodcourt, barulah saya sadar bahwa tas kecil hitam tidak lagi bersama saya. Saya tanya ke kolega tidak ada yang tahu atau merasa membawa. Stress benar dibuatnya. Tanpa passport-tiket mau jadi apa disana ? kami berlari-2 masuk ke toko-2 yang kami sempat masuki dan menanyakan apakah ada tas tertinggal disana. Semua dijawab tidak ada. Akhirnya kami berpikir mungkin tertinggal di foodcourt tempat makan tadi. Kami berdua saja berlari secepatnya ke arah foodcourt dan menuju kursi tempat saya duduki. Disana kami temui petugas kebersihan sudah membersihkan meja dan kursi. Tas yang saya harapkan ada disana sudah tidak terlihat barangnya. Tetapi begitu pandangan saya alihkan ke petugas kasir dan officer foodcourt, alhamdulillah ternyata tas saya disimpan dengan baik oleh petugas tersebut dengan keadaan yang lengkap tanpa kurang apa.

Saya merasakan ini sebuah keajaiban yang nyata. Ajaib karena di negeri kita sulit untuk menemukannya, tetapi nyata karena faktanya saya mengalaminya. Dalam perjalanan ke Jakarta, tidak henti-hentinya pengalaman ini saya renungkan-coba tarik ke area yang lebih besar terhadap kehebatan negeri ini. Bisa jadi negeri yang secara sumber daya ( alam maupun manusia ) yang sangat minim tetapi digdaya secara ekonomi disebabkan perilaku warganya yang disiplin – taat dan terpercaya. Saya dan kolega berkelakar kalau saja ini terjadi di bandara kita, apa jadinya ? sebuah kejadian yang tak akan saya lewatkan begitu saja tanpa memaknainya. Kepercayaan adalah modal yang sangat luar biasa. Terima kasih.

Sabtu, 10 Juli 2010

Anda adalah Orang Penting

Oleh : Sujadi


Hari minggu kemarin kumengantar anakku mengikuti lomba mewarnai tingkat TK yang diselenggarakan oleh salah satu dealer sepeda motor terkenal di kota Semarang. Area penuh sesak oleh para pengantar sehingga udara menjadi panas, terlebih lagi aku termasuk orang yang paling tidak suka menunggu-nunggu suatu hal, suasana betul-betul terasa gerah buatku.

Di saat kegelisahan mulai menyapa, tiba-tiba aku dikejutkan oleh seseorang. Orang ini biasa saja, postur tubuhnya sedang berumur kira-kira 60an tahun, namun berpenampilan bersih dan sangat sopan. Orang ini membuatku berbunga-bunga dan tersanjung, karena aku merasa sangat dihormatinya, meskipun beliau lebih tua dariku. Ku menduga bapak ini nampaknya orang yang sangat bijaksana dan seorang pemimpin yang disegani. Mununggu juga mas? Sapanya. Ia Pak, Bapak juga? Tanyaku membalasnya. Ini saya sedang mengantar cucu saya ikutan lomba ini. Akhirnya kami asyik terlibat pembicaraan yang ringan sambil menikmati lagu-lagu dangdut koplo dari orkes melayu yang biduannya berpakaian ngirit.

Sesungguhnya apa yang membuatku begitu menikmati percakapan itu? Sehingga aku akan merasa sangat menyesal jika tidak berbagi dengan Anda semua. Bapak ini ternyata dulunya adalah seorang tukang kebun/tukang sapu di salah satu SD negeri di suatu desa eks karesidenan Solo. 25 tahun sudah mengabdi menjadi seorang tukang kebun di SD itu. Tetapi bukan jenis pekerjaan dan profesi Bapak itu yang ingin kuceritakan, namun sisi lain yang sangat menarik. Kumerasa heran sekali kepada Bapak ini, mengapa beliau begitu bangga menjalani pekerjaan itu, sementara sebagian orang memandang sebelah mata. Pastilah Bapak ini salah satu makhluk Tuhan yang sering menggerutu, meratapi nasibnya karena pekerjaan itu, kebosanan dan kejenuhan menjadi teman akrab sehari-harinya. Ya sangat membosankan sekali. Begitu dalam benakku saat itu. Untuk menambah asykinya ngobrol kuberanikan diri untuk bertanya "Pak, apakah Bapak tidak bosan dengan pekerjaan itu Pak?" Ketika Bapak ini menjawab, sungguh aku mendapatkan jawaban di luar dugaan dan menyadarkanku akan kebodohan dan kepicikanku. Aku keliru menilai seseorang.

Mas, dari pertanyaan mas dan pendapat sampeyan, terlihat betul mas Jadi kurang paham akan hakekat pekerjaan saya. Saya sangat bangga dan menyenangi pekerjaan menjadi tukang sapu mas, karena saya tahu mas dari sekolah ini akan lahir seorang pemimpin, pemimpin untuk dirinya sendiri untuk keluarganya, untuk organisasinya bahkan untuk negaranya. Maka jika saya melaksanakan pekerjaan itu dengan penuh tanggung jawab maka hasilnyapun akan baik, murid belajar dengan nyaman dan tenang, begitupun para guru akan mengajar dengan senang. Jika suatu saat ada salah seorang yang berhasil dari tempat saya bekerja di SD itu, maka saya ikut bangga telah menjadi bagian dari proses perjalanan dia, biarlah itu menjadi bagian amal baik saya. Mak nyess....kata-katanya, telah menyiram batinku saat itu. Bapak ini penuh nilai dalam hidupnya.

Begitulah kiranya, ternyata setiap orang adalah penting, yang tingkat pentingnya itu tidak bisa dibanding-bandingkan antara yang satu dengan yang lain. Carilah nilai di setiap posisi Anda, sebagai pedoman hakekat dalam berbuat, niscaya Anda akan merasa penting dimanapun Anda berada.