
Catatan cantik seorang sahabat "Anang Yunianto"
Dear friends,
Dalam kesempatan perjalanan bersama banyak kolega 2 minggu lalu ke 2 kota ( Beijing, Shanghai) di negara yang saat ini secara de facto adalah penguasa ekonomi dunia ( baca: China ), kami harus transit terlebih dahulu di sebuah negeri kota yang sudah sangat terkenal yakni Singapura. Selama waktu transit sekitar 3 jam kami gunakan untuk melihat-lihat dan mengagumi keindahan arsitektur, tata letak, kelengkapan sebuah tempat yg sejatinya adalah terminal pesawat tetapi bak sebuah mall yang di negeri kita saja belum pernah saya jumpai megahnya. Meski sudah beberapa kali singgah disana tetapi tetap saja keindahan – kerapihan – kelengkapan - keteraturannya senantiasa terus mengundang kekaguman saya.
Bagi sebagian besar kita, sudah sangat mahfum bahwa negeri singa ini sangat dikenal sebagai salah satu pusat atau juga hub (penghubung) perdagangan dunia. Terlihat berbagai kantor perwakilan perusahaan top dunia ( Multi National Corporations ) bercokol disana. Belum lagi sederetan gedung galeri dari merek-2 favourite tergelar di sepanjang jalan yg dikenal Orchad Road. Kota ini sangat rapi – bersih dan di huni oleh orang-orang yang memiliki disiplin tinggi. Kitapun mengenal joke bahwa orang-2 Indonesia yang biasanya sulit untuk berlaku disiplin, tetapi begitu masuk kota ini langsung berubah menjadi orang yang sangat disiplin luar biasa. Bisa jadi karena takut akan denda atau karena malu dilihat sebagai mahkluk asing mirip Tarzan masuk kota.
Diantara segudang cerita tentang kehebatan negeri kota itu, satu hal yang ingin saya ceritakan kali ini dan makin menambah kekagumam saya kepada negeri ini adalah tentang bisa dipercayanya warga negeri ini.
Ceritanya, sewaktu balik kembali dari Shanghai dan transit kembali di Changi Airport Singapura, saya dan ke-3 kolega sengaja menyusur terminal 3 menuju terminal 2 dengan berjalan kaki sepanjang lorong bandara (yang semestinya bisa dengan naik kereta listrik shuttle). Karena sudah masuk jadwal lunch, maka kami mampir di food court di terminal 1 yang terletak diantara terminal 3 dan 2. Di tempat yang berada di lantai 2 tersebut kami langsung menyerbu stand yang menjual masakan Indonesia disana yakni Nasi Padaang. Sambil duduk bercengkerama menikmati masakan yang terasa nikmat setelah beberapa hari tidak merasakan masakan Indonesia, saya letakkan tas kecil saya yang berisi passport, tiket Singapura-Jakarta, handycam dan beberapa dokumen lain dengan menggantungkannya di sandaran pendek kursi saya. Selesai makan kami kembali menyusuri lorong etalase mewah menuju terminal 2 dengan sesekali masuk toko melihat-lihat dan membandingkan harga produk yang dijual disana. Ada yang cocok dan saya beli untuk souvenir keluarga.
Setelah berjalan sekitar 20 menit dari foodcourt, barulah saya sadar bahwa tas kecil hitam tidak lagi bersama saya. Saya tanya ke kolega tidak ada yang tahu atau merasa membawa. Stress benar dibuatnya. Tanpa passport-tiket mau jadi apa disana ? kami berlari-2 masuk ke toko-2 yang kami sempat masuki dan menanyakan apakah ada tas tertinggal disana. Semua dijawab tidak ada. Akhirnya kami berpikir mungkin tertinggal di foodcourt tempat makan tadi. Kami berdua saja berlari secepatnya ke arah foodcourt dan menuju kursi tempat saya duduki. Disana kami temui petugas kebersihan sudah membersihkan meja dan kursi. Tas yang saya harapkan ada disana sudah tidak terlihat barangnya. Tetapi begitu pandangan saya alihkan ke petugas kasir dan officer foodcourt, alhamdulillah ternyata tas saya disimpan dengan baik oleh petugas tersebut dengan keadaan yang lengkap tanpa kurang apa.
Saya merasakan ini sebuah keajaiban yang nyata. Ajaib karena di negeri kita sulit untuk menemukannya, tetapi nyata karena faktanya saya mengalaminya. Dalam perjalanan ke Jakarta, tidak henti-hentinya pengalaman ini saya renungkan-coba tarik ke area yang lebih besar terhadap kehebatan negeri ini. Bisa jadi negeri yang secara sumber daya ( alam maupun manusia ) yang sangat minim tetapi digdaya secara ekonomi disebabkan perilaku warganya yang disiplin – taat dan terpercaya. Saya dan kolega berkelakar kalau saja ini terjadi di bandara kita, apa jadinya ? sebuah kejadian yang tak akan saya lewatkan begitu saja tanpa memaknainya. Kepercayaan adalah modal yang sangat luar biasa. Terima kasih.