Oleh : Sujadi
Hari minggu kemarin kumengantar anakku mengikuti lomba mewarnai tingkat TK yang diselenggarakan oleh salah satu dealer sepeda motor terkenal di kota Semarang. Area penuh sesak oleh para pengantar sehingga udara menjadi panas, terlebih lagi aku termasuk orang yang paling tidak suka menunggu-nunggu suatu hal, suasana betul-betul terasa gerah buatku.
Di saat kegelisahan mulai menyapa, tiba-tiba aku dikejutkan oleh seseorang. Orang ini biasa saja, postur tubuhnya sedang berumur kira-kira 60an tahun, namun berpenampilan bersih dan sangat sopan. Orang ini membuatku berbunga-bunga dan tersanjung, karena aku merasa sangat dihormatinya, meskipun beliau lebih tua dariku. Ku menduga bapak ini nampaknya orang yang sangat bijaksana dan seorang pemimpin yang disegani. Mununggu juga mas? Sapanya. Ia Pak, Bapak juga? Tanyaku membalasnya. Ini saya sedang mengantar cucu saya ikutan lomba ini. Akhirnya kami asyik terlibat pembicaraan yang ringan sambil menikmati lagu-lagu dangdut koplo dari orkes melayu yang biduannya berpakaian ngirit.
Sesungguhnya apa yang membuatku begitu menikmati percakapan itu? Sehingga aku akan merasa sangat menyesal jika tidak berbagi dengan Anda semua. Bapak ini ternyata dulunya adalah seorang tukang kebun/tukang sapu di salah satu SD negeri di suatu desa eks karesidenan Solo. 25 tahun sudah mengabdi menjadi seorang tukang kebun di SD itu. Tetapi bukan jenis pekerjaan dan profesi Bapak itu yang ingin kuceritakan, namun sisi lain yang sangat menarik. Kumerasa heran sekali kepada Bapak ini, mengapa beliau begitu bangga menjalani pekerjaan itu, sementara sebagian orang memandang sebelah mata. Pastilah Bapak ini salah satu makhluk Tuhan yang sering menggerutu, meratapi nasibnya karena pekerjaan itu, kebosanan dan kejenuhan menjadi teman akrab sehari-harinya. Ya sangat membosankan sekali. Begitu dalam benakku saat itu. Untuk menambah asykinya ngobrol kuberanikan diri untuk bertanya "Pak, apakah Bapak tidak bosan dengan pekerjaan itu Pak?" Ketika Bapak ini menjawab, sungguh aku mendapatkan jawaban di luar dugaan dan menyadarkanku akan kebodohan dan kepicikanku. Aku keliru menilai seseorang.
Mas, dari pertanyaan mas dan pendapat sampeyan, terlihat betul mas Jadi kurang paham akan hakekat pekerjaan saya. Saya sangat bangga dan menyenangi pekerjaan menjadi tukang sapu mas, karena saya tahu mas dari sekolah ini akan lahir seorang pemimpin, pemimpin untuk dirinya sendiri untuk keluarganya, untuk organisasinya bahkan untuk negaranya. Maka jika saya melaksanakan pekerjaan itu dengan penuh tanggung jawab maka hasilnyapun akan baik, murid belajar dengan nyaman dan tenang, begitupun para guru akan mengajar dengan senang. Jika suatu saat ada salah seorang yang berhasil dari tempat saya bekerja di SD itu, maka saya ikut bangga telah menjadi bagian dari proses perjalanan dia, biarlah itu menjadi bagian amal baik saya. Mak nyess....kata-katanya, telah menyiram batinku saat itu. Bapak ini penuh nilai dalam hidupnya.
Begitulah kiranya, ternyata setiap orang adalah penting, yang tingkat pentingnya itu tidak bisa dibanding-bandingkan antara yang satu dengan yang lain. Carilah nilai di setiap posisi Anda, sebagai pedoman hakekat dalam berbuat, niscaya Anda akan merasa penting dimanapun Anda berada.
Kumpulan catatan-catatan sehari-hari sebagai upaya kecil dalam mewujudkan insan yang berkarakter baik lagi kuat untuk kemandirian, kehormatan dan kemuliaan. Multisales, menggambarkan bahwa hakekat setiap peristiwa adalah "PERNIAGAAN - PENJUALAN". Apapun yang kita miliki harus bisa diubah menjadi hal yang bernilai dan bermakna dengan talenta yang kita punya, yang telah diberikan oleh Tuhan sebagai tanda kesyukuran dan kemanfaatan. MULTISALES - MULTITALEN (-T)
Sabtu, 10 Juli 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
setuju mas Jadi...Anda cukup piawai dalam maerangkai kata...teruskan dan tetap semangat
BalasHapusmemang siapapun kita adalah orang yang dilahirkan untuk menjadi penting bagi orang-orang di sekitar kita... yang penting merasa penting itu tidak berarti agar dijadikan diri kita sebagai orang yang ingin diihormati dan dipuji-puji, tapi lebih sekedar bagaimana kita menjadi orang yang selalu bermanfaat bukan menjadi beban buat orang lain..terimakasih
BalasHapuspenting & kepentingan adalah 2 kata dasar yang menjadikan motif seseorang melakukan atau tidak melakukan sesuatu. maka kalau kita menganggap diri kita ini penting dan utk itu menjadi kepentingan kita (supaya menjadi penting)maka sudah semestinya kita akan melakukannya. thanks for this share article...(ayu)
BalasHapus