Jumat, 06 Agustus 2010

Aduang Polose

Dear friends,

Bagi sebagian besar kita barangkali judul diatas masih terasa asing di pendengaran. Jangan dikira bahwa 2 kata tersebut adalah bahasa kawan-2 beta dari Maluku layaknya sebutan indah bagi mereka yakni Ambon Manise, sekali lagi bukan. Inilah khazanah luas negeri kita tercinta, bahwa aduang polose adalah ungkapan dari tiyang sahabat-2 kita yg tinggal di pulau Dewata. Kata tersebut menunjuk pada istilah dalam bahasa Bali yg artinya kurang lebih artinya adalah polos-polos saja, polosan saja atau apa adanya. Jika dimaknakan dlm aktifitas maka 2 kata tersebut bisa diartikan berperilaku, melakukan sesuatu atau menghadapi sesuatu dengan hanya apa adanya saja.

Bagi sebagian cewek barangkali akan sangat senang jika memiliki cowok yg selalu bisa bersikap aduang polose alias apa adanya. Kebetulan lagi tidak punya pulsa ya dg polosnya mengatakan “Maaf ya gak bisa telephone …bisanya cumi alias cuma miscall “. Lain hari si cowok bercerita juga dg apa adanya “ eh kemarin ada cewek langsung tak gandeng tak kira kamu, eh ternyata cumi alias cuma mirip”. Begitulah sebuah kepolosan dalam satu sisi menunjukkan sifat benar adanya, asli sesungguhnya, demikianlah kanyataannya, yg dalam banyak hal memberikan dampak positif secara psikologis yakni dipercaya.

Tetapi disekuel yang lain jika seorang anak buah diminta atasannya untuk mengerjakan sebuah laporan menggunakan format microsoft excel dengan sedikit saja formula standar lalu menjawab “ wah maaf sekali Pak, bukannya apa-2 tapi sekali lagi maaf …saya gak bisa program excel, kalau perbaiki engsel bisa Pak”. Terus apa kira-2 pikir atasannya ? bisa-bisa sang atasan mengumpat “ memang polos sih anak buah satu ini…rasanya lebih cocok jualan pecel !?”

Mau contoh yg lebih polos lagi ? OK, saat Temon baru masuk menjadi karyawan di sebuah perusahaan kurir, sang Bos ingin sekali memberikan motivasi kerja kepadanya dengan mengatakan “Temon, kesuksesan itu dibangun di atas impian”. Temon tampak manggut-2 dan menyimak betul ucapan sang Bos ini. Sejenak selesai dari sesi motivasi tersebut Temon keluar ruangan dan masuk ruang kerja Abdel langsung mencari tempat duduk yg kosong dan siap-2 untuk tidur. Melihat gelagat aneh Temon ini, Abdel mendekat dan bertanya, ” Eh ini kerja koq kamu malah mau tidur ?”. Temon menimpali ” Saya disuruh Bos barusan. Kata Bos bahwa kesuksesan itu dibangun diatas impian. Bagaimana mau mimpi kalau tidak tidur ? sudahlah saya mau membangun kesuksesan dulu” katanya. Begitulah cerita sinetron komedi Abdel dan Temon tadi malam.

Ya begitulah sikap polos dan apa adanya sebagaimana sifat-2 lain juga mengandung tidak hanya aspek yg tunggal yaitu sisi positif saja tetapi juga terkandung sisi kekuranganya. Nah dlm konteks kita bekerja-berkarir ini bagaimana kita menyikapi-mengendalikan unsur kepolosan yg ada dalam diri kita ini ? (lho memangnya masih ada yg polos-2 saja ya ?). Kita coba pelajari bersama yuk….

Hermawan Kartajaya, seorang pakar pemasaran yg diakui sebagai salah satu dari 50 guru pemasaran dunia dalam bukunya “Marketing Yourself” menuliskan pentingnya mengelola apa yg kita miliki untuk menjadi nilai besar dalam menapaki kesuksesan berkarir. Sebagaimana lazimnya pakar pemasaran, maka ia juga menyatakan bahwa kita ini pada dasarnya sama juga dengan sebuah produk. Agar produk itu laku maka harus dilakukanlah kegiatan pemasaran. “Lho apakah kita disarankan untuk jual diri Pak ? “ wah jangan berkonotasi yg negative dulu deh…bukan itu maksudnya. Betul ada unsur “menjual-nya” sih tapi bukan secara vulgar fisik kita, bukan.

Begini, layaknya perusahaan yg memiliki sumber daya untuk berproduksi, misal : adanya SDM-2 yg qualified, adanya organisasi yg tertata sistematis, adanya teknologi yg memungkinkan proses menjadi baik dsb. Diri kita ini juga dibekali oleh Yang Maha Pemurah dengan sumber daya yang berkelimpahan dan sumber daya inilah yg harus dipasarkan kepada stake holder kita supaya laku. Apa saja itu ? ada pengalaman kerja atau pengalaman hidup, pendidikan, talenta alias bakat yg bisa diberdayakan untuk menghasilkan sesuatu. Juga semangat kerja, waktu, ketrampilan, koneksi dll dst. Nah, supaya semua sumber daya itu menjadi berarti maka harus diubah menjadi apa yg disebut sebagai kompetensi inti ( core competency ). Artinya bahwa talenta yg kita miliki ini kita berdayakan dengan maksimal, semangat kerja yg melekat ini kita jadikan sebagai pemacu-pemicu kinerja yg optimal dan konsisten. Sehingga akhirnya kompetensi itu menjadi sebuah keunggulan untuk bersaing dengan menjadikannya sebagai nilai atau value. Bukankah dalam konteks produk, sebenarnya yg dibeli oleh pelanggan itu adalah value ?

Gampangnya kita berikan gambaran begini, seorang petani kopi diperkebunan memetik biji-2 kopi lalu diproses-dikeringkan terus diwadahi karung dibawa ke pasar untuk dijual kiloan akhirnya laku menghasilan duit. Di tempat lain ada pengusaha yang tidak punya kebun kopi tetapi membeli kopi dari petani lalu diproses-dikeringkan di seleksi dan di kantongi yg rapi diberi label “ Kapal Api” juga menghasilkan duit. Di sudut belahan yg lain lagi ada pengusaha juga yg membeli kopi diproses lebih modern di packing lebih menarik, dijual di sebuah cafĂ© yg OK banget dan diberi merek “Starbucks” juga mendapatkan duit. Sama-sama menjual kopi, kira-2 mana yg harganya lebih mahal ? tentu jawabannya adalah kopi Starbucks, kenapa ? karena kopi itu bukan kopi polosan alias komoditas belaka. Ini kopi sudah di jual melalui proses pembentukan value dan bukan dijual ala aduang polose.

Contoh lain bisa kita dapati pada produk “Gulaku”. Mengapa kita mau membeli gula yg lebih mahal hanya karena ada merek ”Gulaku” ? kenapa sama-2 gula koq tidak lagi membeli kiloan di toko sebelah kayak dulu ? Yap betul sekali, karena didalamnya mengandung unsur value. Bukan didalam kandungan gulanya ada tertulis komposisi terdiri dari bahan yg disebut value, bukan itu ( dan jangan dilihat di kemasannya lalu dicari apa ada bahan yg namanya value itu). Artinya bagi sebagian kita membeli ”Gulaku” karena lebih higienis, lebih bersih, lebih tepat ukurannya, lebih meyakinkan rasanya dsb dst. Itulah yg disebut value.

Nah, kembali pada pembahasan tentang diri kita diatas, bagaimana ini menyikapinya ? mau jualan komoditas ataukah value ? Rasanya pilihan koq lebih tepat bagi kita untuk berkarir-bekerja-memposisikan diri adalah dengan semaksimal mungkin memberdayakan sumber daya yg kita miliki untuk menciptakan value sehingga kita akan “dihargai” lebih mahal. Bukan bekerja ala kadarnya-apa adanya sebagaimana produk komoditas alias bekerja versi aduang polose.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar