Kamis, 19 Agustus 2010

Biar Jelek yang Penting Sombong

M. Jei

Dalam obrolan ringan bersama teman-teman, muncul celetukan yang cukup menggelitik “udah jelek, miskin, kutu kupret minderan lagi, mending aku dong…biar jelek yang penting sombong”. Lha wong sudah jelek lagi miskin kok masih minder…ya sono ke laut aja. Demikian sahut menyahut dan meledakkan tawa yang renyah di kalangan kami.

Bila dimaknai lebih dalam celetukkan tadi ada benarnya juga. Saya sendiri memaknainya sebagai upaya dalam melecutkan percaya diri di antara kami. Meskipun kondisi yang ada kurang mendukung dalam memamerkan sesuatu, tetapi setidaknya dengan modal yang ada termasuk modal dengkul kita sudah bisa dipakai menjadi tekad yang nekat untuk berbuat yang lebih.

Bagi orang seperti saya yang sudah bergelut dengan kekurangan selama bertahun-tahun (termasuk kekurangan tinggi badan he..he..), kalimat biar jelek yang penting sombong menjadi kalimat penyejuk pelepas dahaga haus dan menjadikan pendorong dan pembuang rasa minder di dada. Daripada lengkap 100% penderitaan karena minder mending 100% percaya diri. Beres.

Lho..bukannya sombong itu sikap yang tidak terpuji. Betul. Sombong merupakan pakaian Tuhan yang makhluk seperti saya dan Anda tidak berhak memakainya. Dalam tataran horisontal orang yang sombong biasanya selalu dijauhi teman-temannya. Tentu harus dibedakan sombong yang model apa yang bisa membangkitkan percaya diri dan sombong yang merugikan. Ketika berlaku laksana raja, bahwa tidak ada campur tangan Tuhan di setiap peristiwa dan merendahkan orang lain, barangkali kesombongan itu yang merugikan. Tetapi bila merupakan suatu ikhtiar yang meyakini bahwa manusia merupakan makhluk yang setara dengan yang lain dan berhak sama-sama sukses, dan penghormatan terhadap orang lain tidak berkurang serta ketaatan kepada Tuhan senantiasa dipupuk, model begini yang layak diteladani.

Bagaimana pendapat Anda?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar