Minggu, 01 Agustus 2010

Menghormati yang Lebih

Oleh : Sujadi

Pernah saya mendapati seseorang yang begitu getol untuk memperebutkan jabatan Kepala Desa. Beberapa kali dia mengikuti pemilihan, tetapi tak satupun dewi fortuna menghampirinya. Sudah banyak harta benda yang tersita kesana. Pada suatu kesempatan iseng-iseng saya bertanya. Pak, apa sih yang membuat “sampean” begitu bernafsu menjadi kepala desa. Apa ingin dapat proyek? Apa biar dapat bengkok? Atau apa sih pak? Begitu tanya saya beruntun.

Mas…kamu belum sampai kesana untuk mengetahuinya? Begitu dia membuka jawaban. Belum sampai kesana? Memangnya sampai mana sih Pak? Tanya saya lagi. Ya tentu kamu belum bisa mengerti, bahwa saya itu tidak mengejar materi, proyek dan lain-lain…tetapi saya hanya ingin di panggil Pak Lurah. Saya memang tidak mengerti arti jawabannya saat itu, tetapi belakangan saya menyadari bahwa si Bapak itu kemungkinan ingin lebih dihormati dengan cara dipanggil Pak Lurah. Sebutan Pak Lurah begitu agung dimatanya. Terbayang sapa-sapa disetiap acara dan kesempatan terasa begitu indahnya.

Pada setiap waktu saya banyak mengamati bahkan merasakan, bahwa seseorang akan ditempatkan pada posisi tertentu karena dia mempunyai kelebihan. Dihormati lebih. Tetapi dalam kenyataan juga penghormatan itu ada yang bersifat keterpaksaan dan ketulusan. Menghormati yang lebih tua, menghormati yang lebih berpangkat, menghormati yang lebih berharta, menghormati yang lebih berilmu, menghormati yang lebih santun, menghormati yang lebih kuat dan lain-lain. Menjadi insan yang mempunyai kelebihan, salah satu prasyarat untuk dihormati orang. Bila negara, Singapura contoh baiknya. Betapa banyak kelebihan di negara kecil itu.

Rasanya kehormatan itu bisa dicapai dengan terus belajar, mengasah ketrampilan, merubah sikap ke arah yang lebih baik dan positif. Agar penghormatan yang kita terima merupakan penghormatan ketulusan bukan penghormatan keterpaksaan apalagi ketakutan. Dan itu semua tanpa arti bila tidak dilandasi rasa penghambaan pada yang Maha Mengerti

2 komentar:

  1. terimakaish atas perenungannya, kalo saya mah cuek-cuek saja

    BalasHapus
  2. ya teori Maslow ada benarnya utk hal ini bahwa pada periode setelah melewati kemampuan orang utk memenuhi sandang,pangan,papan maka orang mulai utk meminta rasa aman, bisa beramal (sosial), meminta status (diharga), dan aktualisasi diri. so wajar ingin disebut Pak Lurah sbg penghormatan (status). (ayu )

    BalasHapus