M. Jei
Setidaknya sudah dua kali saya merasakan lebaran di perantauan yang cukup jauh dari kampung halaman, tepatnya kurang lebih sepuluh tahun yang lalu. Bersyukur saya tidak sampai tiga kali lebaran. Sehingga rekor bang Toyib tidak terpecahkan oleh saya. Saya berlebaran sendiri bersama teman-teman non muslim bahkan berlainan etnis saat itu. Semua larut dalam kegemberiaan canda tawa dan riang gembira. Barangkali mereka menghibur saya yang tidak sempat bertemu dengan sanak keluarga di kampung.
Kami merasakan ikatan persaudaraan yang kuat sebagai sesama manusia yang saling membutuhkan, saling mengerti, saling mengisi dan saling menguatkan. Sampai-sampai ada yang mencoba memasakkan opor ayam dan ketupat, dengan resep buku yang malamnya baru dibeli dari gramedia. Meskipun teman saya ini jago dalam masakan cina, tetapi memasak opor dan bikin ketupat tampaknya harus banyak belajar. Bentuknya kupat kurang simetris (pating plethot) dan terasa terlalu lembek juga opornya terlalu kuning bahkan menyerupai kaos salah satu parpol. Apapun rasanya kami nikmati bertiga jerih payah teman tionghoa ini dengan senangnya dan lahapnya. Sungguh indah lebaran di perantauan bersama teman yang saling pengertian seperti ini. Sayapun yakin tiap kali lebaran, kedua temanku itu juga merasakan kerinduan kebersamaan kami. Jika demikian SMS dan email sebagai pengganti.
Toleransi kami sangat berwujud di keseharian kami, teman saya yang tionghoa berkeyakinan katholik, dan satu lagi dari Klaten berkeyakinan Budha, sedangkan saya Islam abangan. Selama puasa teman Tionghoa ini tidak jarang membangunkan dan menyuguhkan sahur buat saya, setelah itu kami bersama-sama makan bareng. Begitupun sebaliknya di saat natal dan hari besar waisak, kami bertiga melewatkannya dengan bersama. Kami menyadari bahwa pasang surut hubungan persahabatan selalu ada, perbedaan pendapat yang tajampun kerap terjadi, tetapi pada saat hari besar dan lebaran kami selalu memaafkan dan kembali kepada nurani bahwa persahabatan lebih dari segalanya.
Dengan toleransi dan pengertian, kami bisa melupakan nikmatnya berdesakan di saat mudik, nikmatnya pengab di terminal bis, dan hangatnya perjumpaan dengan sanak saudara. Sekarang saya mengerti kenapa Bang Toyib 3 kali lebaran tidak pulang, semoga di perantauannya sedang mengumpulkan bekal yang banyak untuk anak dan istrinya. Tapi jangan lupa bang..SMS dan lebaran keempat pulang ya bang.
Kumpulan catatan-catatan sehari-hari sebagai upaya kecil dalam mewujudkan insan yang berkarakter baik lagi kuat untuk kemandirian, kehormatan dan kemuliaan. Multisales, menggambarkan bahwa hakekat setiap peristiwa adalah "PERNIAGAAN - PENJUALAN". Apapun yang kita miliki harus bisa diubah menjadi hal yang bernilai dan bermakna dengan talenta yang kita punya, yang telah diberikan oleh Tuhan sebagai tanda kesyukuran dan kemanfaatan. MULTISALES - MULTITALEN (-T)
Kamis, 16 September 2010
Jumat, 03 September 2010
Hari Pelanggan Nasional
Bandara : “ mohon perhatian, para penumpang pesawat Ber-air dengan kode penerbangan B212 tujuan Gak Jelas dipersilakan masuk ke pesawat melalui pintu buntu......”
Stasiun KA : “ perhatian-perhatian, kereta Agrok-agrok jurusan Njombang segera berangkat, penumpang diharapkan segera masuk gerbong yg dibongkar.......”
Terminal : “ bus angkutan mudik jurusan Brebesmili segera berangkat, para penumpang diminta segera naik ......”
Tukang Ojek : “ nah itu dia penumpangku datang nih......”
Hari Pelanggan Nasional memang belum semeriah peringatan hari-hari besar yang lain. Meskipun sudah diperingati beberapa tahun tetapi memang Harpelnas gaungnya masih belum begitu menggema di negeri kita. Hal ini sangat wajar karena sangat sedikit perusahaan-2 di negeri kita yang memahami-menyadari betul bahwa customer / pemakain produk-jasa mereka disebut sebagai pelanggan , artinya yang menjadi langganan bisnisnya. Customer lebih dimaknai sebagai penumpang, artinya yang menumpangi bisnisnya. Kalau penumpang berarti bukan pihak yang sesungguhnya, karena istilah penumpang berarti hanya sekedar ikut menumpang. Sungguh ironis tentunya jika kita sudah membayar dengan harga mahal tetapi masih saja disebut penumpang sehingga kita diperlakukan sebagai pihak yang sekedar menumpang. Apalagi jika kulit kita sedang gelap maka akan disebut sebagai penumpang gelap.....sungguh memilukan.
Oleh karena itu, hari pelanggan nasional ini dimunculkan untuk mengembalikan makna customer sebagai pelanggan yakni pihak yang diharapkan terus menjadi pemakai langganan produk atau jasa perusahaan. Karena diharapkan jadi langganan, maka perusahaan diminta memberikan perlakukan yang tepat supaya terus setia dalam berlangganan. Kenapa harus pelanggan yang diperingati-dihargai, koq bukan karyawan saja dengan mengadakan peringatan hari karyawan nasional ?
Jack Welch, seorang CEO legendaris dari General Motor pernah berucap “ Companies do not provide job security....only customers do !”. Dari sini kita mestinya jadi paham bahwa sesungguhnya yang menjamin keberlangsungan bisnis bukanlah kita sebagai karyawan, tetapi pelanggan. Lebih tegas lagi yang sesungguhnya menggaji setiap bulan, memberikan THR menjelang lebaran itu bukan bagian HRD diperusahaan, tetapi pelanggan. Sehebat apapun perlakuan perusahaan terhadap karyawan, secepat apapun bagian HRD men-transfer pembayaran, sebesar apapun budget promosi oleh bag marketing dikeluarkan, sedahsyat apapun produk/jasa dikembangkan, tetapi jika tidak ada yang mau menjadi pemakai/pembeli/pengguna alias pelanggan...maka kehebatan-kecepatan-kebesara-kedahsyatan itu tiada guna.
Barangkali kita masih ingat produsen HP top di era 90an akhir yang produknya merajalela, yakni Siemens dan Motorolla. Sekarang bagaimana khabarnya ? mereka sudah nyaris tak terdengar di dunia per-HP an, kalah jauh dibanding pendatang NOKIA. Begitupun dengan Nokia, beberapa waktu lalu dirilis bahwa mereka sudah demam-meradang karena angka penjualannya makin lama di gerogoti pendatang baru yang makin canggih yakni Blackberry. Demikian juga blackberry sudah cenut-cenut khawatir disaingi Ipod dari Apple atau Nexus One dari Google dengan teknologi androidnya. Semua katakutan ditinggal pembeli setianya alias pelanggannya. Kesimpulannya tidak ada produk/jasa yang hebat kecuali yang disukai pelanggannya dan tidak ada perusahaan yang hebat bertahan lama jika tidak memiliki pelanggan. Jika di buat shortcut maka kesimpulannya tidak mungkin akan ada perusahaan jika tidak ada pelanggan.
Lalu kalau sudah tahu bahwa pelanggan itulah yang sesungguhnya menjadi darah dari kehidupan perusahaan kita, kenapa kita sepelekan ? bahkan kita sering menganggap pelanggan seperti Jaelangkung, datang tak disambut-pulang tak diantar. Padahal jelas-jelas kita bisa seperti sekarang ini ya karena adanya pelanggan. So, hari pelanggan nasional mengingatkan kembali pentingnya kita memperlakukan pelanggan dengan sangat layak, karena pelangganlah yang menghidupi kita.
Bagaimana pendapat Anda ?
Stasiun KA : “ perhatian-perhatian, kereta Agrok-agrok jurusan Njombang segera berangkat, penumpang diharapkan segera masuk gerbong yg dibongkar.......”
Terminal : “ bus angkutan mudik jurusan Brebesmili segera berangkat, para penumpang diminta segera naik ......”
Tukang Ojek : “ nah itu dia penumpangku datang nih......”
Hari Pelanggan Nasional memang belum semeriah peringatan hari-hari besar yang lain. Meskipun sudah diperingati beberapa tahun tetapi memang Harpelnas gaungnya masih belum begitu menggema di negeri kita. Hal ini sangat wajar karena sangat sedikit perusahaan-2 di negeri kita yang memahami-menyadari betul bahwa customer / pemakain produk-jasa mereka disebut sebagai pelanggan , artinya yang menjadi langganan bisnisnya. Customer lebih dimaknai sebagai penumpang, artinya yang menumpangi bisnisnya. Kalau penumpang berarti bukan pihak yang sesungguhnya, karena istilah penumpang berarti hanya sekedar ikut menumpang. Sungguh ironis tentunya jika kita sudah membayar dengan harga mahal tetapi masih saja disebut penumpang sehingga kita diperlakukan sebagai pihak yang sekedar menumpang. Apalagi jika kulit kita sedang gelap maka akan disebut sebagai penumpang gelap.....sungguh memilukan.
Oleh karena itu, hari pelanggan nasional ini dimunculkan untuk mengembalikan makna customer sebagai pelanggan yakni pihak yang diharapkan terus menjadi pemakai langganan produk atau jasa perusahaan. Karena diharapkan jadi langganan, maka perusahaan diminta memberikan perlakukan yang tepat supaya terus setia dalam berlangganan. Kenapa harus pelanggan yang diperingati-dihargai, koq bukan karyawan saja dengan mengadakan peringatan hari karyawan nasional ?
Jack Welch, seorang CEO legendaris dari General Motor pernah berucap “ Companies do not provide job security....only customers do !”. Dari sini kita mestinya jadi paham bahwa sesungguhnya yang menjamin keberlangsungan bisnis bukanlah kita sebagai karyawan, tetapi pelanggan. Lebih tegas lagi yang sesungguhnya menggaji setiap bulan, memberikan THR menjelang lebaran itu bukan bagian HRD diperusahaan, tetapi pelanggan. Sehebat apapun perlakuan perusahaan terhadap karyawan, secepat apapun bagian HRD men-transfer pembayaran, sebesar apapun budget promosi oleh bag marketing dikeluarkan, sedahsyat apapun produk/jasa dikembangkan, tetapi jika tidak ada yang mau menjadi pemakai/pembeli/pengguna alias pelanggan...maka kehebatan-kecepatan-kebesara-kedahsyatan itu tiada guna.
Barangkali kita masih ingat produsen HP top di era 90an akhir yang produknya merajalela, yakni Siemens dan Motorolla. Sekarang bagaimana khabarnya ? mereka sudah nyaris tak terdengar di dunia per-HP an, kalah jauh dibanding pendatang NOKIA. Begitupun dengan Nokia, beberapa waktu lalu dirilis bahwa mereka sudah demam-meradang karena angka penjualannya makin lama di gerogoti pendatang baru yang makin canggih yakni Blackberry. Demikian juga blackberry sudah cenut-cenut khawatir disaingi Ipod dari Apple atau Nexus One dari Google dengan teknologi androidnya. Semua katakutan ditinggal pembeli setianya alias pelanggannya. Kesimpulannya tidak ada produk/jasa yang hebat kecuali yang disukai pelanggannya dan tidak ada perusahaan yang hebat bertahan lama jika tidak memiliki pelanggan. Jika di buat shortcut maka kesimpulannya tidak mungkin akan ada perusahaan jika tidak ada pelanggan.
Lalu kalau sudah tahu bahwa pelanggan itulah yang sesungguhnya menjadi darah dari kehidupan perusahaan kita, kenapa kita sepelekan ? bahkan kita sering menganggap pelanggan seperti Jaelangkung, datang tak disambut-pulang tak diantar. Padahal jelas-jelas kita bisa seperti sekarang ini ya karena adanya pelanggan. So, hari pelanggan nasional mengingatkan kembali pentingnya kita memperlakukan pelanggan dengan sangat layak, karena pelangganlah yang menghidupi kita.
Bagaimana pendapat Anda ?
Langganan:
Postingan (Atom)