Bandara : “ mohon perhatian, para penumpang pesawat Ber-air dengan kode penerbangan B212 tujuan Gak Jelas dipersilakan masuk ke pesawat melalui pintu buntu......”
Stasiun KA : “ perhatian-perhatian, kereta Agrok-agrok jurusan Njombang segera berangkat, penumpang diharapkan segera masuk gerbong yg dibongkar.......”
Terminal : “ bus angkutan mudik jurusan Brebesmili segera berangkat, para penumpang diminta segera naik ......”
Tukang Ojek : “ nah itu dia penumpangku datang nih......”
Hari Pelanggan Nasional memang belum semeriah peringatan hari-hari besar yang lain. Meskipun sudah diperingati beberapa tahun tetapi memang Harpelnas gaungnya masih belum begitu menggema di negeri kita. Hal ini sangat wajar karena sangat sedikit perusahaan-2 di negeri kita yang memahami-menyadari betul bahwa customer / pemakain produk-jasa mereka disebut sebagai pelanggan , artinya yang menjadi langganan bisnisnya. Customer lebih dimaknai sebagai penumpang, artinya yang menumpangi bisnisnya. Kalau penumpang berarti bukan pihak yang sesungguhnya, karena istilah penumpang berarti hanya sekedar ikut menumpang. Sungguh ironis tentunya jika kita sudah membayar dengan harga mahal tetapi masih saja disebut penumpang sehingga kita diperlakukan sebagai pihak yang sekedar menumpang. Apalagi jika kulit kita sedang gelap maka akan disebut sebagai penumpang gelap.....sungguh memilukan.
Oleh karena itu, hari pelanggan nasional ini dimunculkan untuk mengembalikan makna customer sebagai pelanggan yakni pihak yang diharapkan terus menjadi pemakai langganan produk atau jasa perusahaan. Karena diharapkan jadi langganan, maka perusahaan diminta memberikan perlakukan yang tepat supaya terus setia dalam berlangganan. Kenapa harus pelanggan yang diperingati-dihargai, koq bukan karyawan saja dengan mengadakan peringatan hari karyawan nasional ?
Jack Welch, seorang CEO legendaris dari General Motor pernah berucap “ Companies do not provide job security....only customers do !”. Dari sini kita mestinya jadi paham bahwa sesungguhnya yang menjamin keberlangsungan bisnis bukanlah kita sebagai karyawan, tetapi pelanggan. Lebih tegas lagi yang sesungguhnya menggaji setiap bulan, memberikan THR menjelang lebaran itu bukan bagian HRD diperusahaan, tetapi pelanggan. Sehebat apapun perlakuan perusahaan terhadap karyawan, secepat apapun bagian HRD men-transfer pembayaran, sebesar apapun budget promosi oleh bag marketing dikeluarkan, sedahsyat apapun produk/jasa dikembangkan, tetapi jika tidak ada yang mau menjadi pemakai/pembeli/pengguna alias pelanggan...maka kehebatan-kecepatan-kebesara-kedahsyatan itu tiada guna.
Barangkali kita masih ingat produsen HP top di era 90an akhir yang produknya merajalela, yakni Siemens dan Motorolla. Sekarang bagaimana khabarnya ? mereka sudah nyaris tak terdengar di dunia per-HP an, kalah jauh dibanding pendatang NOKIA. Begitupun dengan Nokia, beberapa waktu lalu dirilis bahwa mereka sudah demam-meradang karena angka penjualannya makin lama di gerogoti pendatang baru yang makin canggih yakni Blackberry. Demikian juga blackberry sudah cenut-cenut khawatir disaingi Ipod dari Apple atau Nexus One dari Google dengan teknologi androidnya. Semua katakutan ditinggal pembeli setianya alias pelanggannya. Kesimpulannya tidak ada produk/jasa yang hebat kecuali yang disukai pelanggannya dan tidak ada perusahaan yang hebat bertahan lama jika tidak memiliki pelanggan. Jika di buat shortcut maka kesimpulannya tidak mungkin akan ada perusahaan jika tidak ada pelanggan.
Lalu kalau sudah tahu bahwa pelanggan itulah yang sesungguhnya menjadi darah dari kehidupan perusahaan kita, kenapa kita sepelekan ? bahkan kita sering menganggap pelanggan seperti Jaelangkung, datang tak disambut-pulang tak diantar. Padahal jelas-jelas kita bisa seperti sekarang ini ya karena adanya pelanggan. So, hari pelanggan nasional mengingatkan kembali pentingnya kita memperlakukan pelanggan dengan sangat layak, karena pelangganlah yang menghidupi kita.
Bagaimana pendapat Anda ?
Kumpulan catatan-catatan sehari-hari sebagai upaya kecil dalam mewujudkan insan yang berkarakter baik lagi kuat untuk kemandirian, kehormatan dan kemuliaan. Multisales, menggambarkan bahwa hakekat setiap peristiwa adalah "PERNIAGAAN - PENJUALAN". Apapun yang kita miliki harus bisa diubah menjadi hal yang bernilai dan bermakna dengan talenta yang kita punya, yang telah diberikan oleh Tuhan sebagai tanda kesyukuran dan kemanfaatan. MULTISALES - MULTITALEN (-T)
Jumat, 03 September 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Ya setuju, saat ini memang pelanggan menjadi bagian yang sangat penting dalam sebuah perusahaan. Tetapi apakah mungkin suatu saat pelanggan menjadi sesuatu yang "tidak sepenting" saat ini? Mungkinkah ada sebuah bisnis yang menghilangkan pelanggan dari bagian sebuah perusahaan..? Jika memang ada, berarti posisi tawar antara perusahaan dan pelanggan akan berimbang. Pelanggan bukan lagi raja, tapi pelanggan adalah rekan kita, yang saling membutuhkan. Siapa tahu suatu saat bakal ada bisnis yang seperti itu...
BalasHapushe..he... saya kira mungkin saja suatu saat ada bisnis yang tidak membutuhkan pelanggan, bila pelanggan diartikan sebagai pihak yang memberikan keuntungan, maka bila nanti sama-sama memberikan keuntungan dengan porsi yang sama..maka hubungan akan menjadi seperti halnya kawan atau yang mbah_joss katakan sebagai teman, artinya nanti hanya akan sebagai pembarteran belaka
BalasHapus