Anang Yunianto
Pernahkah Anda mendengar atau membaca istilah yang mungkin terkesan masih asing yakni ‘Kroco Mumet’? tidak tahu asal mulanya dari mana sehingga saya juga kesulitan menemukan rujukan makna yang sebenarnya. Tetapi memperhatikan gabungan kata dan rasa bahasa yang muncul dari keduanya, mungkin kita bisa menerka-nerka makna yang dikandungnya. Kata kroco mengacu pada binatang sejenis keong yang dalam beberapa istilah lain juga disebut kreco, kul atau keong sawah. Karena tempat hidupnya di area persawahan, lumpur sungai atau selokan, maka kata Kroco disini dijadikan personifikasi orang yang berada pada strata rendahan. Rendahan ini lebih mengarah pada sebuah posisi / jabatan dalam struktur kepegawaian. Sehingga kata kroco menyasar dengan tepat sebagai simbol orang berpangkat rendah.
Sementara kata ‘mumet’ relatif sudah meluas yang diartikan pusing, puyeng, penuh pikiran, sumpek dan sejenisnya. Kata mumet menggambarkan tingkat kesulitan, situasi penat yang didera seseorang dan mengarah pada kebuntuan penyelesaian. Mumet juga berarti putar-putar ( muter-muter, bhs Jawa ) yang mengandung makna bahwa karena kesulitan yang ada itupun sudah diupayakan jalan penyelesaiannya dengan cara kesana-kemari tetapi seakan menghadapi jalan buntu dalam kesendirian pula.
Menggabungkan 2 kata kroco dan mumet menjadi satu, sudah bisa dibayangkan situasinya dimana ada orang yang berpangkat rendah-pekerjaan rendahan mengalami kesulitan yang luar biasa hebatnya dan sudah berusaha mencari jalan keluar kemana-mana tetapi tidak ketemu juga. Ternyata setelah saya pikir-pikir mendalam, kata kroco mumet ini bisa menggambarkan kisah pilu orang rendahan dengan gamblang, spesifik dan penuh penghayatan. Hebat betul penemu gabungan kata ini.
Karena situasi sebagai kroco mumet ini mungkin saja pernah terjadi pada kita yang membaca tulisan ini atau bahkan sering dialami, maka apakah kita mau situasi tersebut terus mendera kita secara berkelanjutan ? lalu apa jalan keluar yang memungkinkan kita tidak terus menerus menghadapinya ?
Secara logic maka jawabannya adalah jangan mau menjadi kroco dan jangan pernah mau untuk mendapati situasi mumet. Cukup singkat-padat bukan ? tetapi tidak cukup menjawab rasanya ya....baiklah kita urai lagi jika demikian.
Sebenarnya kita menjadi pekerja rendahan, pegawai menengah atau pejabat tinggi adalah sebuah pilihan yang kita tentukan sendiri. Coba kita cek, apakah ada peraturan di negeri ini yang melarang dengan jelas nama kita tidak boleh menduduki posisi yang baik-terhormat di perusahaan hebat atau sebuah lembaga yang terhormat ? rasanya koq tidak ada. Atau kalau kita memang sudah sangat muak dan merasa tidak cocok sebagai pekerja rendahan dan merasa bisa menjadi pejabat tinggi lalu mengambil tindakan untuk merubah dan menggapainya, apakah ada aturan yang melarangnya ? so tempat kita saat ini dalam posisi suka atau tidak suka sebenarnya adalah pilihan kita dan jika sudah tidak suka sebenarnya dengan mudah kita bisa merubahnya bukan ? ( keluar dari pekerjaan ini lalu mencari yg lain yang kita anggap cocok, dst ). Kita menjadi kroco karena kita mau dan dengan sadar kita memilihnya !
Pilihan lain sangat terbuka untuk tidak terus menetapkan diri sebagai kroco, bagaimana caranya ? mari kita belajar meningkatkan kualitas diri kita untuk keluar dari sarang pemikiran kroco, berusaha dengan keras untuk tidak lagi pantas disebut kroco, bersungguh-sungguh melakukan metamorfosis diri untuk meninggalkan jejak perilaku kebiasaan kroco. Berubahlah secara total dengan bentuk tindakan nyata untuk memperbaiki diri dengan penuh kesadaran-kesungguhan untuk tidak terus pantas menduduki posisi kroco. apa bisa ? sudah banyak bukti dimana seorang pekerja rendahan bisa mencapai puncak prestasi di perusahaan-2 ternama di negeri. Sehingga mau jadi kroco atau bukan adalah pilihan yang sadar yang kita sendiri memilihnya. Sekarang ubah pilihan itu dengan mengatakan dengan jelas dan membuktikan dengan nyata bahwa kita tidak mau jadi kroco lagi.
Mumet, bagaimana lagi ini mangatasinya ? mumet sebagai gambaran tentang kesulitan hanya bisa diatasi hanya dengan kita tahu caranya. Mumet karena pengetahuan kita sangat minim terhadap persoalan yang kita hadapi. Pengetahuan yang minimalis berhadapan dengan persoalan yang kompleks selalu akan berakhir dengan mumet. So, kalau begitu bagaimana ? tidak ada cara lain kecuali meningkatkan pengetahuan-ketrampilan-cara-2 menghadapi masalah. Akhirnya seberapapun besarnya masalah jika ketemu dengan tingkat pengetahuan-ketrampilan-keahlian yang tinggi maka masalah itu menjadi kecil adanya. Bukankah pekerjaan menambal ban sepeda saja sangat sulit bagi orang yang tidak tahu caranya ? dan bukankah itu menjadi mudah ditangan tukang tambal ban meski mungkin beliau tidak lulus untuk sekedar sekolah dasar. Untuk itu mari kita tingkatkan pengetahuan-ketrampilan-keahlian (kompetensi ) kita sehingga dengan demikian situasi mumet akan hilang dengan sendirinya. Ingat, mumet terjadi karena salah satunya kita selalu menggunakan cara-cara lama untuk menyelesaikan persoalan-persoalan baru. Untuk itu solusinya adalah perbaharui cara-cara kita sehingga selalu kompatible-cocok dengan situasi yang baru.
Dengan demikian, jika kita dengan sungguh-sunnguh memilih untuk memantaskan diri untuk tidak lagi disebut kroco, memantapkan diri untuk terus belajar memperbaharui kompetensi, maka istilah kroco mumet akan segera berlalu dari kita. Kroco mumet ? tidak lagi tuh....
Terima kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar