M. Jei
Sosok kuncen merapi ini tidak habis-habisnya dibicarakan, di warung kopi, di kantor-kantor, di pos kamling dan dimanapun tempatnya. Ketokohannya menyamai berita letusan sang gunung api sendiri. Ya… mbah Maridjan telah menjadi ikon gunung Merapi. Sosoknya yang sudah renta, namun masih tampak begitu gagah naik turun gunung. Saya tidak akan mengajak Anda untuk mengkultuskan beliau, dan juga tidak akan memberikan penilaian yang negatif akan sosoknya. Anda akan saya ajak melihat dari prespektif yang berbeda, yaitu tentang sebuah nilai kehidupan. Keren khan?
Let’s Go!
Mbah Maridjan seakan-akan tidak mau kalah dengan sahabatnya gunung Merapi, yang berdiri kokoh di tengah-tengah pulau Jawa ini. Seakan beliau akan malu meninggalkan tugas. Tugas ibarat titah yang harus dilakukan apapun resikonya. Berdosa besar jika tidak ditunaikan dengan penuh tanggung jawab. Harta benda dan nyawa menjadi kecil dan tak bernilai bila dibandingkan dengan titah yang harus diembannya, karena telah sanggup dan sudah berjanji. Memikul janji seberat gunung Merapi.
Nilai kesederhanaannya telah memupus kontroversinya sebagai orang yang keras kepala. Kebersahajaannya telah membuat decak kagum orang, para selebritis, politisi dan siapa saja yang mengenalnya. Namanya harum di akhir hayatnya. Dikenang sebagai orang yang sangat teguh pendirian, tanpa pamrih, low profile dan roso-roso.
Di balik itu semua ternyata ada juga nilai yang sepatutnya dipahami. Ketika suatu bencana datang merupakan suatu kewajiban untuk menyelamatkan diri. Seorang pemimpin sejati tentu akan mengomandoi untuk penyelamatan semuanya. Termasuk penyelamatan dirinya sendiri. Bukan berdiam diri tak berbuat apa-apa. Tim penyelamat yang datang bisa jadi bentuk pertolongan yang dikirim Tuhan, jika menolak kekonyolan yang didapat. Saya berdoa mbah Maridjan tidak termasuk yang berdiam diri karena keras kepala melainkan karena sebuah nilai yang diyakini, pantang seorang pemimpin “tinggal glanggang colong playu”. Pantang meninggalkan area pertempuran kalau masih ada anak buahnya yang berperang. Akhir hayat yang sedang sujud, semoga menjadi pertanda akan kejernihan jiwanya dan penghambaannya pada Sang Maha Kuasa.
Wallohua’lam
Kumpulan catatan-catatan sehari-hari sebagai upaya kecil dalam mewujudkan insan yang berkarakter baik lagi kuat untuk kemandirian, kehormatan dan kemuliaan. Multisales, menggambarkan bahwa hakekat setiap peristiwa adalah "PERNIAGAAN - PENJUALAN". Apapun yang kita miliki harus bisa diubah menjadi hal yang bernilai dan bermakna dengan talenta yang kita punya, yang telah diberikan oleh Tuhan sebagai tanda kesyukuran dan kemanfaatan. MULTISALES - MULTITALEN (-T)
Senin, 01 November 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar