Selasa, 28 Desember 2010

Enaknya Menjadi Orang Baik

M. Jei

Menjadi tua itu pasti, menjadi baik itu pilihan. He..he… demikian salah satu iklan yang sudah sedikit saya modifikasi. Saya pernah menyaksikan dan menganggap orang yang hidupnya selalu diliputi keberuntungan. Sebut saja namanya Pak Amir. Sehari-hari beliau seorang wiraswasta mebel sukses tingkat desa. Menjadi tokoh masyarakat yang disegani oleh siapa saja, mulai dari kaum remaja, dewasa dan para pinisepuh.

Baiklah, akan sedikit saya sampaikan kenapa beliau diliputi keberuntungan tentu menurut anggapan saya (jareku). Pak Amir ini memiliki 3 orang anak. Ketiga anaknya sudah berkelurga, yang pertama tinggal di Jogja menjadi seorang pengusaha batik. Anak kedua tinggal di Solo mewarisi kelihaian orang tuanya sebagai wiraswasta mebel yang cukup sukses, sedangkan anak ketiga yang juga teman saya bekerja di Bea Cukai. Ini keberuntungan pertama. Keluarga yang harmonis dan sangat sejahtera. Meski Pak Amir sebenarnya hanya lulusan ST (Sekolah Teknik setingkat SLTP jaman dulu), tapi anak-anaknya bisa sekolah sampai perguruan tinggi dan favorit.

Keberuntungan kedua, Pak Amir ini selalu menjadi tempat curhat bagi warga sekitar yang punya masalah. Pembawaannya yang tenang, tutur katanya yang halus, diselingi humor dan kemampuan ekonominya yang mapan menjadi magnet para warga untuk meminta saran dan nasehat. Kenapa ini keberuntungan? Jelas, Pak Amir semakin menjadi tokoh masyarakat yang semakin disegani dan dicintai. Setiap ada acara tanpa diminta warga sudah berbondong-bondong membantunya. Dan keberuntungan yang ketiga, baru-baru ini Pak Amir menunuaikan ibadah haji yang kedua bersama istrinya gratis karena mendapatkan hadiah. Ibadah haji yang pertama juga gratis karena sebagai pembimbing jamaah haji. Cukup tiga ini saja yang saya ceritakan.

Hal yang menjadi kesepakatan warga sekitar terhadap sosok Pak Amir ini dan belum ada yang membantah adalah bahwa Pak Amir adalah orang yang baik, bahkan super baik. Meski dulu saya ingat sempat digosipkan bahwa perolehan hartanya dengan cara tidak baik dan halal yaitu pelihara Thuyul. Namun gosip itu kian hari kian menguap seiring keseharian Pak Amir yang sangat bersahaja meski berada.

Saya mencoba bertanya dan “ngangsu kawruh” ke beliau, nilai kehidupan apa yang mengantarkannya seperti itu. Beberapa hal yang saya dapatkan, tentu atas penafsiran saya sendiri. Karena tidak dirumuskan dalam pembicaraan kami. Sebenarnya nilai-nilai ini umum saja, hanya saja yang membuat beda adalah apa yang Pak Amir katakan tentu sudah dilakukan dan terus dilakukan. Berkali-kali saya selalu dipotong pembicaraan manakala sudah dianggap tidak pas lagi. Mas Jadi sebaiknya membicarakan hal lain saja ya, karena kayaknya orangnya tidak seperti itu dech. Rupanya saya sedang distop untuk tidak berprasangka. Lain kesempatan, ya sudah mas Jadi nggak usah diperpanjang maafkan saja. Toh memaafkan membuat sampeyan lebih plong khan? Rupanya saya sedang diajari bahwa memberi maaf lebih utama. Dan nilai yang paling sulit dilakukan adalah, dalam segi apapun Pak Amir akan selalu memberikan bagian yang lebih menguntungkan kepada pihak lain. Saya sempat tercengang ketika melakukan ekspor mebel ke luar negeri katanya hanya mendapatkan keuntungan 2.5% tetapi patner bisnisnya 10%, suatu kondisi yang tidak wajar dan jarang terjadi bahkan mustahil. Tak ayal jika akhirnya banyak pengusaha yang ingin berebut bekerjasama dengan beliau.

Berarti, Orang jahatpun ingin berkawan dengan orang baik.

Wallohua’alam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar