M. Jei
Sebelum berangkat ke pasar lazimnya seorang Ibu mengiming-imingi anaknya oleh-oleh agar mau ditinggal. Nak… adik di rumah saja ya dengan kakak, ibu pergi ke pasar dulu, nanti ibu belikan martabak kesukaanmu. Iya bu, tapi jangan lupa dibelikan lho. Jawab si anak. Antara ibu dan anak telah terjalin pengharapan yang kuat. Apa yang terjadi jika si ibu ternyata tidak membawa oleh-oleh martabak kesukaannya? Pasti si anak menangis dan kecewa. Kalau begini akhirnya mending tadi ikut ibu pergi ke pasar. Kenapa si ibu tidak membawa oleh-oleh? Tentu banyak sekali kemungkinan alasannya. Mungkin uangnya hilang, mungkin tidak ada penjual martabak, mungkin lupa dan sebagainya. Meski alasan yang dikemukakan betul, tetapi tetap saja menimbulkan kekecewaan. Si anak tak kuasa menahan perasaannya.
Bagaimana dengan kita yang sudah dewasa seperti ini? Masihkah berlaku seperti anak kecil yang selalu kecewa bila hasil tidak sesuai dengan harapan? Kecewa boleh karena bagian dari perasaan, tetapi perasaan itu tidak seharusnya dipelihara. Biarkan perasaan itu hinggap sekejap setelah itu tendang jauh-jauh keluar dari hati. Jangan biarkan bercokol lama-lama. Mengelola perasaan merupakan bagian dari seni kehidupan. Berhitunglah untung dan ruginya perasaan itu. Apakah dengan kecewa akan merubah keadaan? Kalau memang bisa merubah keadaan, kecewalah sebesar-besarnya dan setiap hari. Berhiba-hibalah pada orang bahwa Anda kecewa, setelah orang lain tahu Anda berharap orang itu atau orang lain akan mengobati perasaan Anda. Namun apa yang semakin Anda rasakan? Semakin kecewa bukan? Kenapa? Karena Anda semakin berpengharapan kepada orang, Anda semakin bergantung kepada orang. Dan setelah itu semua Anda semakin kecewa. Bila semakin kecewa maka semakin rugilah hidup Anda.
Mudah kecewa berarti gampang rugi, semakin kecewa juga semakin rugi. Tidak selayaknya menggantungkan harapan kepada pihak lain. Harus diingat pula bahwa pihak lain itupun bisa jadi menggantungkan kepada pihak lain lagi. Makanya jika salah satu rantai ketergantungan ini putus, simpul yang lainpun akan mandeg. Yang sering disebut dampak systemik. Begitulah watak kebergantungan.
Para pesohor, orang-orang top rata-rata tidak bergantung pada pihak lain, mereka tergantung pada dirinya sendiri. Pada kemampuannya, pada karakternya, pada hasil karyanya dan tentu kebergantungan kepada Tuhan YME.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar