M. Jei
Bila dilihat kejadian di sekitar kita bahkan di dunia ini suatu peperangan, suatu perpecahan, suatu perkelahian, bahkan suatu perceraian sebetulnya disebabkan oleh hal-hal yang remeh temeh. Kecil dan tidak berprinsip. Namun hal-hal yang remeh-temeh ini dibuat hiperbola dibesar-besarkan dan seakan-akan menyentuh ubun-ubun harga diri kita.
Sesungguhnya rumusnya sederhana agar tidak terjadi ”bengkerengan” atau perkelahian atau perselisihan. Tanyakan saja kepada diri sendiri “untung dan ruginya apa sih?” Dengan pertanyaan sederhana ini saya rasa bisa meredam amarah yang mendidih, menurunkan tensi dan mengalahkan ego. Kita sendiri akan capek mengurusi hal yang kaya ginian, menjadi tidak berproduktif, tumpul ide, dan sibuk mencari alasan pembenar sikap kita.
Lalu timbul pertanyaan? Lho gimana caranya membedakan itu prinsip dan tidak prinsip? Gampang! Tanyakan lagi aja kepada diri sendiri lagi, kalau urusan ini aku perpanjang untung ruginya apa buat saya dan organisasi saya? Untung dan rugi tidak harus bersifat material, tapi apa saja yang berdampak positif atau negatif bagi kehidupan ini. Tapi bila itu akan berdampak besar pada kehidupan kita, ke ujung bumipun harus diselesaikan. Gampang khan? Gitu aja kok repot, kata Gusdur.
Nantikan seri lanjutannya, Memaafkan tidak sama dengan Mengampuni.
Bagaimana opini Anda?
Kumpulan catatan-catatan sehari-hari sebagai upaya kecil dalam mewujudkan insan yang berkarakter baik lagi kuat untuk kemandirian, kehormatan dan kemuliaan. Multisales, menggambarkan bahwa hakekat setiap peristiwa adalah "PERNIAGAAN - PENJUALAN". Apapun yang kita miliki harus bisa diubah menjadi hal yang bernilai dan bermakna dengan talenta yang kita punya, yang telah diberikan oleh Tuhan sebagai tanda kesyukuran dan kemanfaatan. MULTISALES - MULTITALEN (-T)
Sabtu, 28 Agustus 2010
Kamis, 19 Agustus 2010
Biar Jelek yang Penting Sombong
M. Jei
Dalam obrolan ringan bersama teman-teman, muncul celetukan yang cukup menggelitik “udah jelek, miskin, kutu kupret minderan lagi, mending aku dong…biar jelek yang penting sombong”. Lha wong sudah jelek lagi miskin kok masih minder…ya sono ke laut aja. Demikian sahut menyahut dan meledakkan tawa yang renyah di kalangan kami.
Bila dimaknai lebih dalam celetukkan tadi ada benarnya juga. Saya sendiri memaknainya sebagai upaya dalam melecutkan percaya diri di antara kami. Meskipun kondisi yang ada kurang mendukung dalam memamerkan sesuatu, tetapi setidaknya dengan modal yang ada termasuk modal dengkul kita sudah bisa dipakai menjadi tekad yang nekat untuk berbuat yang lebih.
Bagi orang seperti saya yang sudah bergelut dengan kekurangan selama bertahun-tahun (termasuk kekurangan tinggi badan he..he..), kalimat biar jelek yang penting sombong menjadi kalimat penyejuk pelepas dahaga haus dan menjadikan pendorong dan pembuang rasa minder di dada. Daripada lengkap 100% penderitaan karena minder mending 100% percaya diri. Beres.
Lho..bukannya sombong itu sikap yang tidak terpuji. Betul. Sombong merupakan pakaian Tuhan yang makhluk seperti saya dan Anda tidak berhak memakainya. Dalam tataran horisontal orang yang sombong biasanya selalu dijauhi teman-temannya. Tentu harus dibedakan sombong yang model apa yang bisa membangkitkan percaya diri dan sombong yang merugikan. Ketika berlaku laksana raja, bahwa tidak ada campur tangan Tuhan di setiap peristiwa dan merendahkan orang lain, barangkali kesombongan itu yang merugikan. Tetapi bila merupakan suatu ikhtiar yang meyakini bahwa manusia merupakan makhluk yang setara dengan yang lain dan berhak sama-sama sukses, dan penghormatan terhadap orang lain tidak berkurang serta ketaatan kepada Tuhan senantiasa dipupuk, model begini yang layak diteladani.
Bagaimana pendapat Anda?
Dalam obrolan ringan bersama teman-teman, muncul celetukan yang cukup menggelitik “udah jelek, miskin, kutu kupret minderan lagi, mending aku dong…biar jelek yang penting sombong”. Lha wong sudah jelek lagi miskin kok masih minder…ya sono ke laut aja. Demikian sahut menyahut dan meledakkan tawa yang renyah di kalangan kami.
Bila dimaknai lebih dalam celetukkan tadi ada benarnya juga. Saya sendiri memaknainya sebagai upaya dalam melecutkan percaya diri di antara kami. Meskipun kondisi yang ada kurang mendukung dalam memamerkan sesuatu, tetapi setidaknya dengan modal yang ada termasuk modal dengkul kita sudah bisa dipakai menjadi tekad yang nekat untuk berbuat yang lebih.
Bagi orang seperti saya yang sudah bergelut dengan kekurangan selama bertahun-tahun (termasuk kekurangan tinggi badan he..he..), kalimat biar jelek yang penting sombong menjadi kalimat penyejuk pelepas dahaga haus dan menjadikan pendorong dan pembuang rasa minder di dada. Daripada lengkap 100% penderitaan karena minder mending 100% percaya diri. Beres.
Lho..bukannya sombong itu sikap yang tidak terpuji. Betul. Sombong merupakan pakaian Tuhan yang makhluk seperti saya dan Anda tidak berhak memakainya. Dalam tataran horisontal orang yang sombong biasanya selalu dijauhi teman-temannya. Tentu harus dibedakan sombong yang model apa yang bisa membangkitkan percaya diri dan sombong yang merugikan. Ketika berlaku laksana raja, bahwa tidak ada campur tangan Tuhan di setiap peristiwa dan merendahkan orang lain, barangkali kesombongan itu yang merugikan. Tetapi bila merupakan suatu ikhtiar yang meyakini bahwa manusia merupakan makhluk yang setara dengan yang lain dan berhak sama-sama sukses, dan penghormatan terhadap orang lain tidak berkurang serta ketaatan kepada Tuhan senantiasa dipupuk, model begini yang layak diteladani.
Bagaimana pendapat Anda?
Senin, 16 Agustus 2010
Memerdekakan Diri
M. Jei
Gegap gempita perayaan ceremonial upacara bendera 17 Agustus 2010 baru saja selesai. Terlihat wajah-wajah ceria di barisan upacara itu. Sungguh patut diacungi jempol para sahabat ini begitu antusias dan semangat dalam mengikutinya. Pagi-pagi buta di saat hari libur, rela mengorbankan waktu dan tenaganya mengalahkan rasa kantuk dan juga melawan pertanyaan...sebenarnya buat apa sih upacara? Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, hari ini peserta upacara tidak harus berkeringat karena tertolong oleh cuaca yang mendiung di Semarang, sehingga semakin menambah khidmatnya upacara...mantap.
Memaknai kemerdekaan, selayaknya berinstrospeksi terus pada diri sendiri. Apa yang kurang dan apa yang lebih. Memerdekan diri untuk selalu berbuat baik, bermanfaat untuk orang lain dan berkarya seluas-luasnya.
Tapi...apakah juga merdeka untuk narcis ?
Salam merdeka.
Gegap gempita perayaan ceremonial upacara bendera 17 Agustus 2010 baru saja selesai. Terlihat wajah-wajah ceria di barisan upacara itu. Sungguh patut diacungi jempol para sahabat ini begitu antusias dan semangat dalam mengikutinya. Pagi-pagi buta di saat hari libur, rela mengorbankan waktu dan tenaganya mengalahkan rasa kantuk dan juga melawan pertanyaan...sebenarnya buat apa sih upacara? Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, hari ini peserta upacara tidak harus berkeringat karena tertolong oleh cuaca yang mendiung di Semarang, sehingga semakin menambah khidmatnya upacara...mantap.
Memaknai kemerdekaan, selayaknya berinstrospeksi terus pada diri sendiri. Apa yang kurang dan apa yang lebih. Memerdekan diri untuk selalu berbuat baik, bermanfaat untuk orang lain dan berkarya seluas-luasnya.
Tapi...apakah juga merdeka untuk narcis ?
Salam merdeka.
Sabtu, 14 Agustus 2010
Pemimpin yang Melegenda
M. Jei
Sering terdengar bahkan diyakini bahwa setiap individu adalah pemimpin. Kita akan bicara tentang pemimpin yang melegenda. Melegenda artinya selalu diingat nama baiknya, diselami pemikirannya, diikuti petuah-petuahnya dan menjadi inspirasi setiap tindakan-tindakannya. Karena sedemikian besar pengaruh seorang pemimpin maka tidak heran jika dalam satu ungkapan suci, pemimpin yang demikian adalah salah satu penghuni surga.
Saya meyakini, banyak sekali pemimpin yang melegenda di sekitar kita baik yang skala rumah tangga sampai sampai negara bahkan dunia. Pak Karno salah satu yang melegenda dalam skala negara, bisa jadi kakek, ayah atau pakdhe kita juga merupakan pemimpin yang melegenda di lingkungan keluarga.
Sebetulnya apa tolak ukur utama untuk menilainya?
Dalam suatu ungkapan suci dikatakan bahwa pemimpin yang baik adalah pemimpin yang dicintai pengikutnya dan diapun mencintai pengikutnya. Timbul suatu pertanyaan, apa yang dimaksud dengan mencintai dan dicintai? Agak susah memang untuk menterjemahkannya. Karena manusia merupakan makhluk paling unik di dunia. Mencintai dan dicintai adalah sesuatu yang relatif, akan sangat berbeda antara yang satu dengan yang lain.
Lalu bagaimana nich? Pemimpin merupakan suatu proses yang panjang, hasil akan terlihat setelah melalui tahap demi tahap proses yang akhirnya akan melahirkan suatu rasa antara pemimpin dan yang dipimpin saling mencintai. Kehadiran pemimpin selalu dinanti, karena akan menimbulkan rasa aman dan nyaman bagi pengikutnya sedangkan kepergiannya ditangisi. Pun demikian bagi sang pemimpin, hatinya selalu merindukan bagaimana kehadirannya selalu membawa manfaat buat orang lain.
Maka jika kita bisa berlaku seperti itu hakekatnya Anda adalah seorang pemimpin yang pasti melegenda pada hati pengikutnya meskipun tidak harus meminpin dalam arti yang formal. Lebih-lebih lagi jika telah menjadi pemimpin yang disyahkan dalam organisasi tertentu. Kesempatan kita jauh lebih besar untuk kemanfaatan banyak orang.
Tidak hanya diri kita yang akan terkenang, namun seluruh anggota keluarga, teman-teman di sekitar kita ikut bangga menjadi bagian kita.
Bagaimana pendapat Anda?
Sering terdengar bahkan diyakini bahwa setiap individu adalah pemimpin. Kita akan bicara tentang pemimpin yang melegenda. Melegenda artinya selalu diingat nama baiknya, diselami pemikirannya, diikuti petuah-petuahnya dan menjadi inspirasi setiap tindakan-tindakannya. Karena sedemikian besar pengaruh seorang pemimpin maka tidak heran jika dalam satu ungkapan suci, pemimpin yang demikian adalah salah satu penghuni surga.
Saya meyakini, banyak sekali pemimpin yang melegenda di sekitar kita baik yang skala rumah tangga sampai sampai negara bahkan dunia. Pak Karno salah satu yang melegenda dalam skala negara, bisa jadi kakek, ayah atau pakdhe kita juga merupakan pemimpin yang melegenda di lingkungan keluarga.
Sebetulnya apa tolak ukur utama untuk menilainya?
Dalam suatu ungkapan suci dikatakan bahwa pemimpin yang baik adalah pemimpin yang dicintai pengikutnya dan diapun mencintai pengikutnya. Timbul suatu pertanyaan, apa yang dimaksud dengan mencintai dan dicintai? Agak susah memang untuk menterjemahkannya. Karena manusia merupakan makhluk paling unik di dunia. Mencintai dan dicintai adalah sesuatu yang relatif, akan sangat berbeda antara yang satu dengan yang lain.
Lalu bagaimana nich? Pemimpin merupakan suatu proses yang panjang, hasil akan terlihat setelah melalui tahap demi tahap proses yang akhirnya akan melahirkan suatu rasa antara pemimpin dan yang dipimpin saling mencintai. Kehadiran pemimpin selalu dinanti, karena akan menimbulkan rasa aman dan nyaman bagi pengikutnya sedangkan kepergiannya ditangisi. Pun demikian bagi sang pemimpin, hatinya selalu merindukan bagaimana kehadirannya selalu membawa manfaat buat orang lain.
Maka jika kita bisa berlaku seperti itu hakekatnya Anda adalah seorang pemimpin yang pasti melegenda pada hati pengikutnya meskipun tidak harus meminpin dalam arti yang formal. Lebih-lebih lagi jika telah menjadi pemimpin yang disyahkan dalam organisasi tertentu. Kesempatan kita jauh lebih besar untuk kemanfaatan banyak orang.
Tidak hanya diri kita yang akan terkenang, namun seluruh anggota keluarga, teman-teman di sekitar kita ikut bangga menjadi bagian kita.
Bagaimana pendapat Anda?
Kamis, 12 Agustus 2010
Apa itu kerja kreatif ?
Anang Yunianto
Control your destiny or someone else will ( Jack Welch )
Dear team,
Kalimat dari Jack Welch tersebut diatas sangat dalam maknanya jika kita mau memahaminya dengan sungguh-2. Secara bebas bisa diartikan, kontrol-kendalikan tujuan-2 Anda-hal-2 terpenting dlm hidup Anda-nasib Anda, atau jika tidak maka orang lain yang akan mengendalikan semua itu untuk kita. Maksudnya bahwa kita memiliki kuasa penuh atas diri kita ini mau kemana-mau jadi apa kedepan. Jika kita tidak mengambil peran atas diri kita sendiri, maka akan ada orang lain yg mengendalikan arah kita yang bisa jadi tidak sesuai dengan kemauan kita.
Hal diatas bisa di analogikan bahwa diri kita ini yg memegang remote control atas channel-2 tujuan kita. Setiap saat kita bisa mengganti channel pilihan atas kesadaran kita. Kita mau menjadi karyawan yg rajin tinggal pencet channel 1 misalnya,mau teliti saluran 2, motivasi saluran 3 dst. Sebaliknya bila mau pilih yg malas-2 an saluran 13 juga tersedia. Semua tergantung kita mau yang mana karena remote ada di kita. Tetapi jika kendali remote kita serahkan orang lain, maka jangan kecewa jika Anda mau rajin terpencet malas, mau jadi Kadept keliru jadi collector, mau jadi BOD keliru jadi direktur OB dst. Kita benar-2 tidak berdaya atas diri kita karena remote Anda serahkan orang lain.
Bagaimana supaya remote ini selalu dalam genggaman kita ?
Pertama, milikilah tujuan-2 terlebih dahulu. Pastikan bahwa kalau pada pukul 19.05 di MetroTV itu ada channel motivasi dari Mario Teguh dan saya harus melihatnya dengan lengkap dari awal sampai akhir, misalnya. Pastikan bahwa dalam bekerja ini memiliki tujuan yg Anda mau capai dengan jelas. Makanya ada konsep yg menyatakan jika Anda memiki tujuan maka tujuan itu harus di rumuskan secara SMART ( diartikan pintar-cerdas) tetapi juga sebuah singkatan dari : Specific, Measurable, Achievable, Realistic, Timetable. Yakni jelas arahnya, terukur tujuannya, sesuatu yg bisa dicapai, pernah ada atau setidaknya bisa dicapai dan tidak ngawur, dan terakhir ada ukuran waktunya. Misal, mau menjadi Kepada Departemen, maka harus di breakdown kapan mau jadinya, bagaimana caranya karena Kadept itu tidak nganeh-nganehi karena sudah jelas ada yang pernah ada jadi Kadept, dsb.
Kedua, milikilah alat kontrol yang memungkinkan kita tidak keluar jalur dari tujuan-2 yang sudah kita tetapkan. Dalam bekerja selalu milikilah indikator-2 kunci atas kinerja Anda atau yg biasa di sebut dg KPI ( key performance indicator ). Kalau seorang PDI indikator utamanya adalah saat serah terima unit semua clear maka buat alat kontrol yg jelas supaya itu terlaksana. Misalnya, saya akan selalu cek satu per satu atas unit yg saya serah terimakan kepada pelanggan dan tidak boleh ada yg terlewat. Cek list yg ada harus benar-2 komplit kalau kurang saya tambai sendiri, dsb. Kalau Anda seorang MO, maka saya harus memastikan prospke-2 saya tercatat dg baik secara update, kontrak-2 terus saya monitor, pembayaran pelanggan selalu saya kontrok dg ketat. Semua itu saya raportkan kepada atasan yg terkait secara reguler diminta atu tidak. Utk mengingatkan atas semua pekerjaan maka saya buat semuanya di excel yg saya buka setiap hari. Semua itu hanyalah sekedar contoh yg intinya milikilah alat kontrol dalam arti sistem. Alat kontrol lain adalah milikilah rekan yg bisa diajak sebagai partner untuk diskusi dan memberikan masukan-koreksi atas kinerja Anda.
Ketiga, milikilah sense of creativity. Kreatifitas bukan berarti membuat laporan data di excel ditambahi gambar-2 atau karikatur di warnai, bukan itu. kreatifitas itu kita tahu apa yg dibutuhkan oleh diri sendiri-rekan kerja-atasan-pelanggan dst. Lalu di pastikan apakah laporan-2/data-2 itu sudah memenuhi harapan mereka atau belum. Jika belum maka di bagian mana yg diharus di tambahkan. Saya sendiri berusaha utk selalu ketat dg pembuatan laporan-data, saya pastikan kalau pakai excel gride line pasti sudah hilang dari layar, fornt dibuat yg menarik, sesekali utk penekanan di berikan warna tertentu, jike diperlukan huruf di bold atau italic, sheet yg tidak perlu di delete, sistematika data dibuat yg logic dst. Itu semua memerlukan kreatifitas. MO bisa berkreasi dg selalu memiliki data yg update di excel ttg customer data motion, report AR dst. Jangan sampai semua kreatifitas itu adanya hanya di sistem SAP, kalau di tanya punyakah data ttg revenue pasti dijawab, “ada di SAP Pak”. Keseluruhan data pelanggan yg mestinya ada di diri kita semua disandarkan pada SAP, seluruh otak kita pindahkan ke SAP sementara kita sendiri kosong.
Keempat, perbaharui terus wawasan-pengetahuan,cara-2 kerja. Dunia sudah berubah dengan segala kecepatannya. Jangan sampai untuk membuat surat kepada pelanggan saja masih menggunakan format jaman krisis 1998. Padahal Krisis sendiri sudah masuk ke episode lanjutan di 2008 tetapi untuk membuat surat kita masih seneng banget dengan 1998 yg menggunakan font jadul. Untuk presentasi di prospek besar masih menggunakan power point jaman pertama kali perush ini didirikan. Untung saja sudah tidak menggunakan plastik proyektor.
Masih banyak yg bisa dijelaskan tentang kreatif dalam bekerja, tetapi setidaknya 4 hal itu dulu saja kali ini. Ingatlah bahwa kita berada di perusahaan jasa yg harus setiap saat memperbaharui tata cara kita melayani pelanggan atau calon pelanggan. Bebaskan pikiran Anda semua dari belenggu-2 masa lalu yg mencengkeram kreatifitas Anda semua. Terima kasih.
Control your destiny or someone else will ( Jack Welch )
Dear team,
Kalimat dari Jack Welch tersebut diatas sangat dalam maknanya jika kita mau memahaminya dengan sungguh-2. Secara bebas bisa diartikan, kontrol-kendalikan tujuan-2 Anda-hal-2 terpenting dlm hidup Anda-nasib Anda, atau jika tidak maka orang lain yang akan mengendalikan semua itu untuk kita. Maksudnya bahwa kita memiliki kuasa penuh atas diri kita ini mau kemana-mau jadi apa kedepan. Jika kita tidak mengambil peran atas diri kita sendiri, maka akan ada orang lain yg mengendalikan arah kita yang bisa jadi tidak sesuai dengan kemauan kita.
Hal diatas bisa di analogikan bahwa diri kita ini yg memegang remote control atas channel-2 tujuan kita. Setiap saat kita bisa mengganti channel pilihan atas kesadaran kita. Kita mau menjadi karyawan yg rajin tinggal pencet channel 1 misalnya,mau teliti saluran 2, motivasi saluran 3 dst. Sebaliknya bila mau pilih yg malas-2 an saluran 13 juga tersedia. Semua tergantung kita mau yang mana karena remote ada di kita. Tetapi jika kendali remote kita serahkan orang lain, maka jangan kecewa jika Anda mau rajin terpencet malas, mau jadi Kadept keliru jadi collector, mau jadi BOD keliru jadi direktur OB dst. Kita benar-2 tidak berdaya atas diri kita karena remote Anda serahkan orang lain.
Bagaimana supaya remote ini selalu dalam genggaman kita ?
Pertama, milikilah tujuan-2 terlebih dahulu. Pastikan bahwa kalau pada pukul 19.05 di MetroTV itu ada channel motivasi dari Mario Teguh dan saya harus melihatnya dengan lengkap dari awal sampai akhir, misalnya. Pastikan bahwa dalam bekerja ini memiliki tujuan yg Anda mau capai dengan jelas. Makanya ada konsep yg menyatakan jika Anda memiki tujuan maka tujuan itu harus di rumuskan secara SMART ( diartikan pintar-cerdas) tetapi juga sebuah singkatan dari : Specific, Measurable, Achievable, Realistic, Timetable. Yakni jelas arahnya, terukur tujuannya, sesuatu yg bisa dicapai, pernah ada atau setidaknya bisa dicapai dan tidak ngawur, dan terakhir ada ukuran waktunya. Misal, mau menjadi Kepada Departemen, maka harus di breakdown kapan mau jadinya, bagaimana caranya karena Kadept itu tidak nganeh-nganehi karena sudah jelas ada yang pernah ada jadi Kadept, dsb.
Kedua, milikilah alat kontrol yang memungkinkan kita tidak keluar jalur dari tujuan-2 yang sudah kita tetapkan. Dalam bekerja selalu milikilah indikator-2 kunci atas kinerja Anda atau yg biasa di sebut dg KPI ( key performance indicator ). Kalau seorang PDI indikator utamanya adalah saat serah terima unit semua clear maka buat alat kontrol yg jelas supaya itu terlaksana. Misalnya, saya akan selalu cek satu per satu atas unit yg saya serah terimakan kepada pelanggan dan tidak boleh ada yg terlewat. Cek list yg ada harus benar-2 komplit kalau kurang saya tambai sendiri, dsb. Kalau Anda seorang MO, maka saya harus memastikan prospke-2 saya tercatat dg baik secara update, kontrak-2 terus saya monitor, pembayaran pelanggan selalu saya kontrok dg ketat. Semua itu saya raportkan kepada atasan yg terkait secara reguler diminta atu tidak. Utk mengingatkan atas semua pekerjaan maka saya buat semuanya di excel yg saya buka setiap hari. Semua itu hanyalah sekedar contoh yg intinya milikilah alat kontrol dalam arti sistem. Alat kontrol lain adalah milikilah rekan yg bisa diajak sebagai partner untuk diskusi dan memberikan masukan-koreksi atas kinerja Anda.
Ketiga, milikilah sense of creativity. Kreatifitas bukan berarti membuat laporan data di excel ditambahi gambar-2 atau karikatur di warnai, bukan itu. kreatifitas itu kita tahu apa yg dibutuhkan oleh diri sendiri-rekan kerja-atasan-pelanggan dst. Lalu di pastikan apakah laporan-2/data-2 itu sudah memenuhi harapan mereka atau belum. Jika belum maka di bagian mana yg diharus di tambahkan. Saya sendiri berusaha utk selalu ketat dg pembuatan laporan-data, saya pastikan kalau pakai excel gride line pasti sudah hilang dari layar, fornt dibuat yg menarik, sesekali utk penekanan di berikan warna tertentu, jike diperlukan huruf di bold atau italic, sheet yg tidak perlu di delete, sistematika data dibuat yg logic dst. Itu semua memerlukan kreatifitas. MO bisa berkreasi dg selalu memiliki data yg update di excel ttg customer data motion, report AR dst. Jangan sampai semua kreatifitas itu adanya hanya di sistem SAP, kalau di tanya punyakah data ttg revenue pasti dijawab, “ada di SAP Pak”. Keseluruhan data pelanggan yg mestinya ada di diri kita semua disandarkan pada SAP, seluruh otak kita pindahkan ke SAP sementara kita sendiri kosong.
Keempat, perbaharui terus wawasan-pengetahuan,cara-2 kerja. Dunia sudah berubah dengan segala kecepatannya. Jangan sampai untuk membuat surat kepada pelanggan saja masih menggunakan format jaman krisis 1998. Padahal Krisis sendiri sudah masuk ke episode lanjutan di 2008 tetapi untuk membuat surat kita masih seneng banget dengan 1998 yg menggunakan font jadul. Untuk presentasi di prospek besar masih menggunakan power point jaman pertama kali perush ini didirikan. Untung saja sudah tidak menggunakan plastik proyektor.
Masih banyak yg bisa dijelaskan tentang kreatif dalam bekerja, tetapi setidaknya 4 hal itu dulu saja kali ini. Ingatlah bahwa kita berada di perusahaan jasa yg harus setiap saat memperbaharui tata cara kita melayani pelanggan atau calon pelanggan. Bebaskan pikiran Anda semua dari belenggu-2 masa lalu yg mencengkeram kreatifitas Anda semua. Terima kasih.
Rabu, 11 Agustus 2010
Make It Simple
M. Jei
Sering terdengar ungkapan “nggampangke” sebuah ungkapan dari bahasa Jawa yang berarti membuat mudah suatu hal. Sekilas tampak berkonotasi negatif, mencerminkan sikap yang tidak mau ambil pusing, tidak peduli dan cenderung lari dari tanggung jawab. Atau kadang-kadang malah menutupi ketidakberdayaan kita akan suatu hal.
Tetapi, saya sering mendapati bahwa ada problem ditangan si A, tampak begitu rumit dan berbelit, sedangkan bila ditangan si B, tampak begitu enteng dan mudah penyelesainnya. Kenapa ya..? Tidak usah jauh-jauh, contohnya di kehidupan kantor, ketika kita punya problem pekerjaan kita merasakannya berat sekali, tetapi begitu kita konsultasikan dengan atasan ternyata penyelesainnya menjadi gampang dan sederhana.
Lho kenapa mereka bisa seperti itu? Bisa jadi karena mereka ilmunya lebih banyak dari kita, lebih matang dari kita, cara pandang yang lebih luas, yang jelas bukan berarti lebih tua dari kita..he..he.. usia bukan jaminan man.
Sesungguhnya setiap kita bisa menyederhanakan segala problem asal tahu ilmunya, sekali lagi tahu ilmunya. Problem nggak bisa beli baju akan sangat tidak berarti apa-apa bagi yang punya duit he..he... Berarti tugas kita selanjutnya adalah Leaning and Doing. Make It Simple don’t Make It Difficult, but Don’t Make It Trouble.
Bagaimana pendapat Anda?
Sering terdengar ungkapan “nggampangke” sebuah ungkapan dari bahasa Jawa yang berarti membuat mudah suatu hal. Sekilas tampak berkonotasi negatif, mencerminkan sikap yang tidak mau ambil pusing, tidak peduli dan cenderung lari dari tanggung jawab. Atau kadang-kadang malah menutupi ketidakberdayaan kita akan suatu hal.
Tetapi, saya sering mendapati bahwa ada problem ditangan si A, tampak begitu rumit dan berbelit, sedangkan bila ditangan si B, tampak begitu enteng dan mudah penyelesainnya. Kenapa ya..? Tidak usah jauh-jauh, contohnya di kehidupan kantor, ketika kita punya problem pekerjaan kita merasakannya berat sekali, tetapi begitu kita konsultasikan dengan atasan ternyata penyelesainnya menjadi gampang dan sederhana.
Lho kenapa mereka bisa seperti itu? Bisa jadi karena mereka ilmunya lebih banyak dari kita, lebih matang dari kita, cara pandang yang lebih luas, yang jelas bukan berarti lebih tua dari kita..he..he.. usia bukan jaminan man.
Sesungguhnya setiap kita bisa menyederhanakan segala problem asal tahu ilmunya, sekali lagi tahu ilmunya. Problem nggak bisa beli baju akan sangat tidak berarti apa-apa bagi yang punya duit he..he... Berarti tugas kita selanjutnya adalah Leaning and Doing. Make It Simple don’t Make It Difficult, but Don’t Make It Trouble.
Bagaimana pendapat Anda?
Mental Berkelimpahan
Oleh : M. Jei
Sungguh bersyukur sekali kita dipertemukan di tempat kerja ini. Saya dipertemukan dengan orang-orang yang sangat positif. Setidaknya 2 hal yang bisa terlihat, antusiasnya dalam berbagi dengan anak-anak Panti Asuhan, terbuka dan legowonya ketika saling memberikan masukan saat sharing siang ini. Tercatat empat juta seratus lima puluh lima ribu rupiah dalam waktu yang singkat untuk kita berbag. Ini menjadi inspirasi untuk saling menguatkan dan merupakan modal yang semakin bertambah untuk kita meraih masa depan yang semakin gemilang.
Seperti kata Pak Bambang kemarin sore saat ceramah spiritualnya, bahwa keadaan kita masa kini karena hasil perbuatan di masa lalu, perbuatan di masa kini akan terlihat di masa depan. Sudah siapkah kita dengan hasil di masa depan? Lihatlah perbuatan masa kini. Hukum tabur tuai, sebab akibat, kekekalan energi merupakan hukum alam yang akan selalu berlaku, dimanapun, dan kepada siapapun. Jadi kalau kalau sekarang kita rada-rada eror...he..he..bisa dilihat masa muda dulu lah yau ...Jangan menyalahkan keadaan. TITIK, but to be continued ....
Sungguh bersyukur sekali kita dipertemukan di tempat kerja ini. Saya dipertemukan dengan orang-orang yang sangat positif. Setidaknya 2 hal yang bisa terlihat, antusiasnya dalam berbagi dengan anak-anak Panti Asuhan, terbuka dan legowonya ketika saling memberikan masukan saat sharing siang ini. Tercatat empat juta seratus lima puluh lima ribu rupiah dalam waktu yang singkat untuk kita berbag. Ini menjadi inspirasi untuk saling menguatkan dan merupakan modal yang semakin bertambah untuk kita meraih masa depan yang semakin gemilang.
Seperti kata Pak Bambang kemarin sore saat ceramah spiritualnya, bahwa keadaan kita masa kini karena hasil perbuatan di masa lalu, perbuatan di masa kini akan terlihat di masa depan. Sudah siapkah kita dengan hasil di masa depan? Lihatlah perbuatan masa kini. Hukum tabur tuai, sebab akibat, kekekalan energi merupakan hukum alam yang akan selalu berlaku, dimanapun, dan kepada siapapun. Jadi kalau kalau sekarang kita rada-rada eror...he..he..bisa dilihat masa muda dulu lah yau ...Jangan menyalahkan keadaan. TITIK, but to be continued ....
Selasa, 10 Agustus 2010
Memuji adalah senjata hebat
Memuji adalah senjata hebat
M. Jei
Aku tak bisa menyembunyikan kegembiraanku, ketika aku dipuji, begitupun sebaliknya…tak bisa berbohong dalam menutupi kegundahan saat di-nyek apalagi dihina salah satu kawan. Barangkali aku mewarisi tradisi-tradisi kuno layaknnya seorang priyayi bangsawan dari keraton, yang selalu ingin di-subyo-subyo. Apakah ini baik? Apakah ini buruk? Aku tidak tahu …yang jelas namanya dipuji telah mengantarkan kegembiraan luar biasa di dada ini.
Pernah terbayang dampaknya ketika Anda memuji? Oke..lah, mulai ini saja, ingat-ingat dulu, sudah berapa kali Anda memuji pasangan hidup Anda? Seberapa sering memuji rekan kerja Anda. Atau barangkali pernahkan Anda dipuji seseorang yang Anda anggap baik, Anda anggap terhormat, Anda segani, Anda cintai??? Pernahkan Anda merasa dampaknya begitu hebat pada kehidupan Anda??
Dalam segi marketing, dampak pujian sungguh luar biasa, warung sate kecil di pinggiran Blora sana berubah drastis menjadi sangat ramai setelah dikunjungi wakil presiden dan mengatakan enak tenan. Begitupun ada seorang kawan yang ketiban durian runtuh (padahal kalau betulan benjol khan he..he..) ketika para warga mengatakan ... wah si Anu itu waga hebat, maka pantas dijadikan ketua RT. Pujiannya membanggakan dan membuat berbunga-bunga hati tapi efeknya ini lho… jadi ketua RT, salah satu pejabat publik yang paling tidak disukai.
Demikianlah, puji-memuji…tapi yang jelas apapun bentuknya telah memberikan efek motivasi yang tinggi untuk suatu kegembiraan. Bukankan dengan gembira Anda akan berproduktif???
Bagaimana pendapat Anda??
M. Jei
Aku tak bisa menyembunyikan kegembiraanku, ketika aku dipuji, begitupun sebaliknya…tak bisa berbohong dalam menutupi kegundahan saat di-nyek apalagi dihina salah satu kawan. Barangkali aku mewarisi tradisi-tradisi kuno layaknnya seorang priyayi bangsawan dari keraton, yang selalu ingin di-subyo-subyo. Apakah ini baik? Apakah ini buruk? Aku tidak tahu …yang jelas namanya dipuji telah mengantarkan kegembiraan luar biasa di dada ini.
Pernah terbayang dampaknya ketika Anda memuji? Oke..lah, mulai ini saja, ingat-ingat dulu, sudah berapa kali Anda memuji pasangan hidup Anda? Seberapa sering memuji rekan kerja Anda. Atau barangkali pernahkan Anda dipuji seseorang yang Anda anggap baik, Anda anggap terhormat, Anda segani, Anda cintai??? Pernahkan Anda merasa dampaknya begitu hebat pada kehidupan Anda??
Dalam segi marketing, dampak pujian sungguh luar biasa, warung sate kecil di pinggiran Blora sana berubah drastis menjadi sangat ramai setelah dikunjungi wakil presiden dan mengatakan enak tenan. Begitupun ada seorang kawan yang ketiban durian runtuh (padahal kalau betulan benjol khan he..he..) ketika para warga mengatakan ... wah si Anu itu waga hebat, maka pantas dijadikan ketua RT. Pujiannya membanggakan dan membuat berbunga-bunga hati tapi efeknya ini lho… jadi ketua RT, salah satu pejabat publik yang paling tidak disukai.
Demikianlah, puji-memuji…tapi yang jelas apapun bentuknya telah memberikan efek motivasi yang tinggi untuk suatu kegembiraan. Bukankan dengan gembira Anda akan berproduktif???
Bagaimana pendapat Anda??
Ngikut ber-Prestasi
Ngikut ber-Prestasi
M. Jei
Setiap kali membaca koran akhir-akhir ini, selalu disuguhi berita seputar Piala Dunia. Menyenangkan sekali ketika membacanya. Prestasi-prestasi hebat terukir disana. Itu semuanya membuatku iri. Maka akupun tidak mau kalah, pikiranku malayang-layang mencoba mencari mengurai, dan mengumpulkan prestasi-prestasiku dari kecil hingga sekarang. He..he..wah agak susah mencarinya. Akhirnya sambil malu-malu pada diri sendiri, kucatat yang kuanggap sebagai prestasi. Semua kutulis rapih. Setiap kali kondisi agak down, kubaca-baca lagi tuch prestasi agar timbul semangat lagi. Orang kok narsis...begitu kata istriku yang saat ini sedang hamil muda.
Prestasi-prestasiku tentu tidak sebanding dengan prestasi para pesohor dunia itu. Bagaimana bisa sebanding, masak prestasi juara sepakbola sejagat akan sebanding dengan juara catur tingkat RT. Sungguh nggak ada apa-apanya. Dari sisi manapun tidak bisa dibandingkan, apalagi dari sisi hadiah dan uangnya, wow...jauh bagai bumi dan langit...nggak akan ketemu. Tapi masih saja hal itu kubangga-banggakan, paling tidak pernah menjadi juara pikirku.
Ternyata, bila ditelaah lebih jauh para pesohor dunia itu harus melewati jalan yang terjal, licin, berbatu dan banyak rintangan untuk sampai di pulau prestasi nan indah itu. Seorang David Beckham harus berlatih menendang bola siang dan malam untuk sampai pada tembakan pisang yang maut itu. Berlatih-berlatih dan terus berlatih tanpa kenal lelah sampai prestasi tercapai.
Mbah-mbah di lereng gunung sana yang berjalan menyusuri jalan setapak sambil menggendong kayu, teman-teman sekantor yang melejit karirnya, rumah tangga teman yang harmonis, kepiawaian kawan dalam bersosialisasi, kedermawanan sahabat yang tak terhenti, dan segudang prestasi sekitar kita layak menginspirasi kita untuk selalu berdaya, berkekuatan, tak kenal lelah untuk terus bergerak dalam mencapai prestasi-prestasi.
Bagaimana pendapat Anda?
M. Jei
Setiap kali membaca koran akhir-akhir ini, selalu disuguhi berita seputar Piala Dunia. Menyenangkan sekali ketika membacanya. Prestasi-prestasi hebat terukir disana. Itu semuanya membuatku iri. Maka akupun tidak mau kalah, pikiranku malayang-layang mencoba mencari mengurai, dan mengumpulkan prestasi-prestasiku dari kecil hingga sekarang. He..he..wah agak susah mencarinya. Akhirnya sambil malu-malu pada diri sendiri, kucatat yang kuanggap sebagai prestasi. Semua kutulis rapih. Setiap kali kondisi agak down, kubaca-baca lagi tuch prestasi agar timbul semangat lagi. Orang kok narsis...begitu kata istriku yang saat ini sedang hamil muda.
Prestasi-prestasiku tentu tidak sebanding dengan prestasi para pesohor dunia itu. Bagaimana bisa sebanding, masak prestasi juara sepakbola sejagat akan sebanding dengan juara catur tingkat RT. Sungguh nggak ada apa-apanya. Dari sisi manapun tidak bisa dibandingkan, apalagi dari sisi hadiah dan uangnya, wow...jauh bagai bumi dan langit...nggak akan ketemu. Tapi masih saja hal itu kubangga-banggakan, paling tidak pernah menjadi juara pikirku.
Ternyata, bila ditelaah lebih jauh para pesohor dunia itu harus melewati jalan yang terjal, licin, berbatu dan banyak rintangan untuk sampai di pulau prestasi nan indah itu. Seorang David Beckham harus berlatih menendang bola siang dan malam untuk sampai pada tembakan pisang yang maut itu. Berlatih-berlatih dan terus berlatih tanpa kenal lelah sampai prestasi tercapai.
Mbah-mbah di lereng gunung sana yang berjalan menyusuri jalan setapak sambil menggendong kayu, teman-teman sekantor yang melejit karirnya, rumah tangga teman yang harmonis, kepiawaian kawan dalam bersosialisasi, kedermawanan sahabat yang tak terhenti, dan segudang prestasi sekitar kita layak menginspirasi kita untuk selalu berdaya, berkekuatan, tak kenal lelah untuk terus bergerak dalam mencapai prestasi-prestasi.
Bagaimana pendapat Anda?
Minggu, 08 Agustus 2010
Pemuas Kelas Wahid
Oleh : M. Jei
Dari seluruh teori tentang pelayanan ujungnya adalah PUAS. Ternyata kepuasan tidak harus dilakukan oleh orang yang berpendidikan tinggi. Saya sangat kagum dengan salah satu saudara saya yang saat ini sebagai pedagang sapi. Jika dilihat dari pendidikan..sungguh tak layak saya kemukakan. Tapi yang membuat saya terkagum-kagum dan terpana akan sikap beliau. Ya ..Anda betul, pelayanan dia baik. Bukan hanya baik tapi suuaangat buaik, sekali lagi suuaangaat buaik.
Baiklah …saya menceritakan ini setelah saya membaca bukunya James Gwee (bukan James Dwi ….he..he..), yang saya hubung-hubungkan dengan cerita salah satu saudara saya itu dan …gathuk. Begini…suatu waktu ada pelanggan yang datang ke rumah beliau dan bertanya (bahasa kita komplain) perihal sapi yang dibelinya 3 hari yang lalu katanya tidak mau makan dan sakit sehingga kelihatan semakin kurus. Singkat cerita ditengoklah sapi tersebut ke rumah sang pelanggan. Dan ternyata benar adanya, sapi tampak lemah dan sangat memprihatinkan. Apa yang dilakukan sang pedagang. Sapi segera diobati dengan ala kadarnya yang telah disiapkan dari rumah sebelumnya. Tapi keesokan hari kondisi sapi tetap belum mendapat tanda-tanda kesembuhan. Akhirnya sapi dibawa ke kandang dan diperlakukan dengan perawatan yang khusus. Seminggu kemudian sapi sembuh dan sudah kelihatan gemuk. Bukan main senangnya sang pelanggan …cerita dari mulut ke mulut tentang kepuasan ini sedemikian hebohnya di kalangan pecinta sapi, tentu Anda semua bisa menebak khan, betapa sang pedagang semakin kokoh menancapkan kuku eksistensinya sebagai seorang pemuas kelas wahid.
Teman… bukankah berbagai dalih bisa dikemukakan saat pelanggan komplain saat sapinya sakit? Pak, mana kuitansinya kalau Bapak pernah beli ke saya. Lho Pak..kalau sapi sudah di rumah Bapak khan, saya tidak tahu bagaimana Bapak memeliharanya..jangan-jangan diberi pakan yang salah? Lho kan tidak ada dalam perjanjian, dlsb. Tapi semua itu tidak dilakukan oleh sang pedagang. Dia hanya berfikir, dengan apa yang dilakukannya pasti pelanggan ini puas. Kepuasannya akan mengantarkan perjalanan saya menuju singgasana kebanggaan diri.
Saya menyampaikan...Anda yang menyimpulkan
Dari seluruh teori tentang pelayanan ujungnya adalah PUAS. Ternyata kepuasan tidak harus dilakukan oleh orang yang berpendidikan tinggi. Saya sangat kagum dengan salah satu saudara saya yang saat ini sebagai pedagang sapi. Jika dilihat dari pendidikan..sungguh tak layak saya kemukakan. Tapi yang membuat saya terkagum-kagum dan terpana akan sikap beliau. Ya ..Anda betul, pelayanan dia baik. Bukan hanya baik tapi suuaangat buaik, sekali lagi suuaangaat buaik.
Baiklah …saya menceritakan ini setelah saya membaca bukunya James Gwee (bukan James Dwi ….he..he..), yang saya hubung-hubungkan dengan cerita salah satu saudara saya itu dan …gathuk. Begini…suatu waktu ada pelanggan yang datang ke rumah beliau dan bertanya (bahasa kita komplain) perihal sapi yang dibelinya 3 hari yang lalu katanya tidak mau makan dan sakit sehingga kelihatan semakin kurus. Singkat cerita ditengoklah sapi tersebut ke rumah sang pelanggan. Dan ternyata benar adanya, sapi tampak lemah dan sangat memprihatinkan. Apa yang dilakukan sang pedagang. Sapi segera diobati dengan ala kadarnya yang telah disiapkan dari rumah sebelumnya. Tapi keesokan hari kondisi sapi tetap belum mendapat tanda-tanda kesembuhan. Akhirnya sapi dibawa ke kandang dan diperlakukan dengan perawatan yang khusus. Seminggu kemudian sapi sembuh dan sudah kelihatan gemuk. Bukan main senangnya sang pelanggan …cerita dari mulut ke mulut tentang kepuasan ini sedemikian hebohnya di kalangan pecinta sapi, tentu Anda semua bisa menebak khan, betapa sang pedagang semakin kokoh menancapkan kuku eksistensinya sebagai seorang pemuas kelas wahid.
Teman… bukankah berbagai dalih bisa dikemukakan saat pelanggan komplain saat sapinya sakit? Pak, mana kuitansinya kalau Bapak pernah beli ke saya. Lho Pak..kalau sapi sudah di rumah Bapak khan, saya tidak tahu bagaimana Bapak memeliharanya..jangan-jangan diberi pakan yang salah? Lho kan tidak ada dalam perjanjian, dlsb. Tapi semua itu tidak dilakukan oleh sang pedagang. Dia hanya berfikir, dengan apa yang dilakukannya pasti pelanggan ini puas. Kepuasannya akan mengantarkan perjalanan saya menuju singgasana kebanggaan diri.
Saya menyampaikan...Anda yang menyimpulkan
I am A Leader
Oleh M. Jei
Sering saya merenungi masa demi masa kehidupan saya. Semasa masa kecil hingga sekarang, lingkungan dimana saya berada, orang tua yang telah melahirkan dan sebagainya. Suatu ketika muncul pertanyaan? Mengapa ada orang kok enak sekali ya ... begitu lahir “oek” sudah menjadi anak raja, menjadi anak presiden dan menjadi anak seorang pemimpin lainnya. Mereka diuntungkan dengan status, ya khan? Ugh... betul-betul enak sekali, dan mulianya dia.
Tetapi kembali saya merenung, teringat akan ungkapan suci..”bahwa orang yang paling baik adalah orang yang bertaqwa” Plong rasanya perasaan ini. Berarti sayapun mempunyai peluang yang sama untuk seperti mereka. Bukan seperti mereka tapi justru seperti orang tua mereka. Sebagai seorang raja atau seorang presiden. Mungkinkah? Sangat mungkin!!
Ya, ya harus menjadi seorang pemimpin jawabnya.
Pemimpin? Haruskah menjadi seorang pemimpin yang formal? Berstatus? Menjabat? Di organisasi? Bisa ya bisa tidak. Kata manajemen modern, beberapa syarat menjadi seorang pemimpin harus bervisi, kompeten, profesional dll. Kata Ki Hajar Dewantara pemimpin itu Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.
Salah satu ilustrasi yang indah tentang seorang pemimpin diceritakan seperti ini. Sekelompok orang yang tersesat di hutan belantara, saling bertengkar dalam menentukan arah kemana harus dituju. Sebagian mengatakan harus ke kiri, sebagian berkata harus ke kanan, sebagian lagi lurus, dan sebagian yang lain mengatakan harus kembali. Pertengkaran begitu hebat, namun tidak menghasilkan penyelesaian, karena semua juga tidak yakin akan pendapatnya. Tiba-tiba ada salah seorang diantara mereka tiba-tiba mencari pohon yang paling tinggi dan memanjatnya. Setelah itu dia turun dan berkata, kita harus ke arah sebelah sana karena disana ada sungai, dan nanti kita telusuri sungai itu, kita tahu di sekitar sungai biasanya ada perkampungan penduduk dan kita pasti selamat.
Sahabat, sudahkan terdetik dalam diri akan karakter seorang pemimpin, meskipun sedikit. Setiap diri adalah pemimpin. Memimpin diri sendiri juga tidak kalah susah memimpin orang lain, ya khan? Memimpin lisan untuk tidak ngarasani saja susah..he..he..
Sering saya merenungi masa demi masa kehidupan saya. Semasa masa kecil hingga sekarang, lingkungan dimana saya berada, orang tua yang telah melahirkan dan sebagainya. Suatu ketika muncul pertanyaan? Mengapa ada orang kok enak sekali ya ... begitu lahir “oek” sudah menjadi anak raja, menjadi anak presiden dan menjadi anak seorang pemimpin lainnya. Mereka diuntungkan dengan status, ya khan? Ugh... betul-betul enak sekali, dan mulianya dia.
Tetapi kembali saya merenung, teringat akan ungkapan suci..”bahwa orang yang paling baik adalah orang yang bertaqwa” Plong rasanya perasaan ini. Berarti sayapun mempunyai peluang yang sama untuk seperti mereka. Bukan seperti mereka tapi justru seperti orang tua mereka. Sebagai seorang raja atau seorang presiden. Mungkinkah? Sangat mungkin!!
Ya, ya harus menjadi seorang pemimpin jawabnya.
Pemimpin? Haruskah menjadi seorang pemimpin yang formal? Berstatus? Menjabat? Di organisasi? Bisa ya bisa tidak. Kata manajemen modern, beberapa syarat menjadi seorang pemimpin harus bervisi, kompeten, profesional dll. Kata Ki Hajar Dewantara pemimpin itu Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.
Salah satu ilustrasi yang indah tentang seorang pemimpin diceritakan seperti ini. Sekelompok orang yang tersesat di hutan belantara, saling bertengkar dalam menentukan arah kemana harus dituju. Sebagian mengatakan harus ke kiri, sebagian berkata harus ke kanan, sebagian lagi lurus, dan sebagian yang lain mengatakan harus kembali. Pertengkaran begitu hebat, namun tidak menghasilkan penyelesaian, karena semua juga tidak yakin akan pendapatnya. Tiba-tiba ada salah seorang diantara mereka tiba-tiba mencari pohon yang paling tinggi dan memanjatnya. Setelah itu dia turun dan berkata, kita harus ke arah sebelah sana karena disana ada sungai, dan nanti kita telusuri sungai itu, kita tahu di sekitar sungai biasanya ada perkampungan penduduk dan kita pasti selamat.
Sahabat, sudahkan terdetik dalam diri akan karakter seorang pemimpin, meskipun sedikit. Setiap diri adalah pemimpin. Memimpin diri sendiri juga tidak kalah susah memimpin orang lain, ya khan? Memimpin lisan untuk tidak ngarasani saja susah..he..he..
Jumat, 06 Agustus 2010
Aduang Polose
Dear friends,
Bagi sebagian besar kita barangkali judul diatas masih terasa asing di pendengaran. Jangan dikira bahwa 2 kata tersebut adalah bahasa kawan-2 beta dari Maluku layaknya sebutan indah bagi mereka yakni Ambon Manise, sekali lagi bukan. Inilah khazanah luas negeri kita tercinta, bahwa aduang polose adalah ungkapan dari tiyang sahabat-2 kita yg tinggal di pulau Dewata. Kata tersebut menunjuk pada istilah dalam bahasa Bali yg artinya kurang lebih artinya adalah polos-polos saja, polosan saja atau apa adanya. Jika dimaknakan dlm aktifitas maka 2 kata tersebut bisa diartikan berperilaku, melakukan sesuatu atau menghadapi sesuatu dengan hanya apa adanya saja.
Bagi sebagian cewek barangkali akan sangat senang jika memiliki cowok yg selalu bisa bersikap aduang polose alias apa adanya. Kebetulan lagi tidak punya pulsa ya dg polosnya mengatakan “Maaf ya gak bisa telephone …bisanya cumi alias cuma miscall “. Lain hari si cowok bercerita juga dg apa adanya “ eh kemarin ada cewek langsung tak gandeng tak kira kamu, eh ternyata cumi alias cuma mirip”. Begitulah sebuah kepolosan dalam satu sisi menunjukkan sifat benar adanya, asli sesungguhnya, demikianlah kanyataannya, yg dalam banyak hal memberikan dampak positif secara psikologis yakni dipercaya.
Tetapi disekuel yang lain jika seorang anak buah diminta atasannya untuk mengerjakan sebuah laporan menggunakan format microsoft excel dengan sedikit saja formula standar lalu menjawab “ wah maaf sekali Pak, bukannya apa-2 tapi sekali lagi maaf …saya gak bisa program excel, kalau perbaiki engsel bisa Pak”. Terus apa kira-2 pikir atasannya ? bisa-bisa sang atasan mengumpat “ memang polos sih anak buah satu ini…rasanya lebih cocok jualan pecel !?”
Mau contoh yg lebih polos lagi ? OK, saat Temon baru masuk menjadi karyawan di sebuah perusahaan kurir, sang Bos ingin sekali memberikan motivasi kerja kepadanya dengan mengatakan “Temon, kesuksesan itu dibangun di atas impian”. Temon tampak manggut-2 dan menyimak betul ucapan sang Bos ini. Sejenak selesai dari sesi motivasi tersebut Temon keluar ruangan dan masuk ruang kerja Abdel langsung mencari tempat duduk yg kosong dan siap-2 untuk tidur. Melihat gelagat aneh Temon ini, Abdel mendekat dan bertanya, ” Eh ini kerja koq kamu malah mau tidur ?”. Temon menimpali ” Saya disuruh Bos barusan. Kata Bos bahwa kesuksesan itu dibangun diatas impian. Bagaimana mau mimpi kalau tidak tidur ? sudahlah saya mau membangun kesuksesan dulu” katanya. Begitulah cerita sinetron komedi Abdel dan Temon tadi malam.
Ya begitulah sikap polos dan apa adanya sebagaimana sifat-2 lain juga mengandung tidak hanya aspek yg tunggal yaitu sisi positif saja tetapi juga terkandung sisi kekuranganya. Nah dlm konteks kita bekerja-berkarir ini bagaimana kita menyikapi-mengendalikan unsur kepolosan yg ada dalam diri kita ini ? (lho memangnya masih ada yg polos-2 saja ya ?). Kita coba pelajari bersama yuk….
Hermawan Kartajaya, seorang pakar pemasaran yg diakui sebagai salah satu dari 50 guru pemasaran dunia dalam bukunya “Marketing Yourself” menuliskan pentingnya mengelola apa yg kita miliki untuk menjadi nilai besar dalam menapaki kesuksesan berkarir. Sebagaimana lazimnya pakar pemasaran, maka ia juga menyatakan bahwa kita ini pada dasarnya sama juga dengan sebuah produk. Agar produk itu laku maka harus dilakukanlah kegiatan pemasaran. “Lho apakah kita disarankan untuk jual diri Pak ? “ wah jangan berkonotasi yg negative dulu deh…bukan itu maksudnya. Betul ada unsur “menjual-nya” sih tapi bukan secara vulgar fisik kita, bukan.
Begini, layaknya perusahaan yg memiliki sumber daya untuk berproduksi, misal : adanya SDM-2 yg qualified, adanya organisasi yg tertata sistematis, adanya teknologi yg memungkinkan proses menjadi baik dsb. Diri kita ini juga dibekali oleh Yang Maha Pemurah dengan sumber daya yang berkelimpahan dan sumber daya inilah yg harus dipasarkan kepada stake holder kita supaya laku. Apa saja itu ? ada pengalaman kerja atau pengalaman hidup, pendidikan, talenta alias bakat yg bisa diberdayakan untuk menghasilkan sesuatu. Juga semangat kerja, waktu, ketrampilan, koneksi dll dst. Nah, supaya semua sumber daya itu menjadi berarti maka harus diubah menjadi apa yg disebut sebagai kompetensi inti ( core competency ). Artinya bahwa talenta yg kita miliki ini kita berdayakan dengan maksimal, semangat kerja yg melekat ini kita jadikan sebagai pemacu-pemicu kinerja yg optimal dan konsisten. Sehingga akhirnya kompetensi itu menjadi sebuah keunggulan untuk bersaing dengan menjadikannya sebagai nilai atau value. Bukankah dalam konteks produk, sebenarnya yg dibeli oleh pelanggan itu adalah value ?
Gampangnya kita berikan gambaran begini, seorang petani kopi diperkebunan memetik biji-2 kopi lalu diproses-dikeringkan terus diwadahi karung dibawa ke pasar untuk dijual kiloan akhirnya laku menghasilan duit. Di tempat lain ada pengusaha yang tidak punya kebun kopi tetapi membeli kopi dari petani lalu diproses-dikeringkan di seleksi dan di kantongi yg rapi diberi label “ Kapal Api” juga menghasilkan duit. Di sudut belahan yg lain lagi ada pengusaha juga yg membeli kopi diproses lebih modern di packing lebih menarik, dijual di sebuah cafĂ© yg OK banget dan diberi merek “Starbucks” juga mendapatkan duit. Sama-sama menjual kopi, kira-2 mana yg harganya lebih mahal ? tentu jawabannya adalah kopi Starbucks, kenapa ? karena kopi itu bukan kopi polosan alias komoditas belaka. Ini kopi sudah di jual melalui proses pembentukan value dan bukan dijual ala aduang polose.
Contoh lain bisa kita dapati pada produk “Gulaku”. Mengapa kita mau membeli gula yg lebih mahal hanya karena ada merek ”Gulaku” ? kenapa sama-2 gula koq tidak lagi membeli kiloan di toko sebelah kayak dulu ? Yap betul sekali, karena didalamnya mengandung unsur value. Bukan didalam kandungan gulanya ada tertulis komposisi terdiri dari bahan yg disebut value, bukan itu ( dan jangan dilihat di kemasannya lalu dicari apa ada bahan yg namanya value itu). Artinya bagi sebagian kita membeli ”Gulaku” karena lebih higienis, lebih bersih, lebih tepat ukurannya, lebih meyakinkan rasanya dsb dst. Itulah yg disebut value.
Nah, kembali pada pembahasan tentang diri kita diatas, bagaimana ini menyikapinya ? mau jualan komoditas ataukah value ? Rasanya pilihan koq lebih tepat bagi kita untuk berkarir-bekerja-memposisikan diri adalah dengan semaksimal mungkin memberdayakan sumber daya yg kita miliki untuk menciptakan value sehingga kita akan “dihargai” lebih mahal. Bukan bekerja ala kadarnya-apa adanya sebagaimana produk komoditas alias bekerja versi aduang polose.
Bagi sebagian besar kita barangkali judul diatas masih terasa asing di pendengaran. Jangan dikira bahwa 2 kata tersebut adalah bahasa kawan-2 beta dari Maluku layaknya sebutan indah bagi mereka yakni Ambon Manise, sekali lagi bukan. Inilah khazanah luas negeri kita tercinta, bahwa aduang polose adalah ungkapan dari tiyang sahabat-2 kita yg tinggal di pulau Dewata. Kata tersebut menunjuk pada istilah dalam bahasa Bali yg artinya kurang lebih artinya adalah polos-polos saja, polosan saja atau apa adanya. Jika dimaknakan dlm aktifitas maka 2 kata tersebut bisa diartikan berperilaku, melakukan sesuatu atau menghadapi sesuatu dengan hanya apa adanya saja.
Bagi sebagian cewek barangkali akan sangat senang jika memiliki cowok yg selalu bisa bersikap aduang polose alias apa adanya. Kebetulan lagi tidak punya pulsa ya dg polosnya mengatakan “Maaf ya gak bisa telephone …bisanya cumi alias cuma miscall “. Lain hari si cowok bercerita juga dg apa adanya “ eh kemarin ada cewek langsung tak gandeng tak kira kamu, eh ternyata cumi alias cuma mirip”. Begitulah sebuah kepolosan dalam satu sisi menunjukkan sifat benar adanya, asli sesungguhnya, demikianlah kanyataannya, yg dalam banyak hal memberikan dampak positif secara psikologis yakni dipercaya.
Tetapi disekuel yang lain jika seorang anak buah diminta atasannya untuk mengerjakan sebuah laporan menggunakan format microsoft excel dengan sedikit saja formula standar lalu menjawab “ wah maaf sekali Pak, bukannya apa-2 tapi sekali lagi maaf …saya gak bisa program excel, kalau perbaiki engsel bisa Pak”. Terus apa kira-2 pikir atasannya ? bisa-bisa sang atasan mengumpat “ memang polos sih anak buah satu ini…rasanya lebih cocok jualan pecel !?”
Mau contoh yg lebih polos lagi ? OK, saat Temon baru masuk menjadi karyawan di sebuah perusahaan kurir, sang Bos ingin sekali memberikan motivasi kerja kepadanya dengan mengatakan “Temon, kesuksesan itu dibangun di atas impian”. Temon tampak manggut-2 dan menyimak betul ucapan sang Bos ini. Sejenak selesai dari sesi motivasi tersebut Temon keluar ruangan dan masuk ruang kerja Abdel langsung mencari tempat duduk yg kosong dan siap-2 untuk tidur. Melihat gelagat aneh Temon ini, Abdel mendekat dan bertanya, ” Eh ini kerja koq kamu malah mau tidur ?”. Temon menimpali ” Saya disuruh Bos barusan. Kata Bos bahwa kesuksesan itu dibangun diatas impian. Bagaimana mau mimpi kalau tidak tidur ? sudahlah saya mau membangun kesuksesan dulu” katanya. Begitulah cerita sinetron komedi Abdel dan Temon tadi malam.
Ya begitulah sikap polos dan apa adanya sebagaimana sifat-2 lain juga mengandung tidak hanya aspek yg tunggal yaitu sisi positif saja tetapi juga terkandung sisi kekuranganya. Nah dlm konteks kita bekerja-berkarir ini bagaimana kita menyikapi-mengendalikan unsur kepolosan yg ada dalam diri kita ini ? (lho memangnya masih ada yg polos-2 saja ya ?). Kita coba pelajari bersama yuk….
Hermawan Kartajaya, seorang pakar pemasaran yg diakui sebagai salah satu dari 50 guru pemasaran dunia dalam bukunya “Marketing Yourself” menuliskan pentingnya mengelola apa yg kita miliki untuk menjadi nilai besar dalam menapaki kesuksesan berkarir. Sebagaimana lazimnya pakar pemasaran, maka ia juga menyatakan bahwa kita ini pada dasarnya sama juga dengan sebuah produk. Agar produk itu laku maka harus dilakukanlah kegiatan pemasaran. “Lho apakah kita disarankan untuk jual diri Pak ? “ wah jangan berkonotasi yg negative dulu deh…bukan itu maksudnya. Betul ada unsur “menjual-nya” sih tapi bukan secara vulgar fisik kita, bukan.
Begini, layaknya perusahaan yg memiliki sumber daya untuk berproduksi, misal : adanya SDM-2 yg qualified, adanya organisasi yg tertata sistematis, adanya teknologi yg memungkinkan proses menjadi baik dsb. Diri kita ini juga dibekali oleh Yang Maha Pemurah dengan sumber daya yang berkelimpahan dan sumber daya inilah yg harus dipasarkan kepada stake holder kita supaya laku. Apa saja itu ? ada pengalaman kerja atau pengalaman hidup, pendidikan, talenta alias bakat yg bisa diberdayakan untuk menghasilkan sesuatu. Juga semangat kerja, waktu, ketrampilan, koneksi dll dst. Nah, supaya semua sumber daya itu menjadi berarti maka harus diubah menjadi apa yg disebut sebagai kompetensi inti ( core competency ). Artinya bahwa talenta yg kita miliki ini kita berdayakan dengan maksimal, semangat kerja yg melekat ini kita jadikan sebagai pemacu-pemicu kinerja yg optimal dan konsisten. Sehingga akhirnya kompetensi itu menjadi sebuah keunggulan untuk bersaing dengan menjadikannya sebagai nilai atau value. Bukankah dalam konteks produk, sebenarnya yg dibeli oleh pelanggan itu adalah value ?
Gampangnya kita berikan gambaran begini, seorang petani kopi diperkebunan memetik biji-2 kopi lalu diproses-dikeringkan terus diwadahi karung dibawa ke pasar untuk dijual kiloan akhirnya laku menghasilan duit. Di tempat lain ada pengusaha yang tidak punya kebun kopi tetapi membeli kopi dari petani lalu diproses-dikeringkan di seleksi dan di kantongi yg rapi diberi label “ Kapal Api” juga menghasilkan duit. Di sudut belahan yg lain lagi ada pengusaha juga yg membeli kopi diproses lebih modern di packing lebih menarik, dijual di sebuah cafĂ© yg OK banget dan diberi merek “Starbucks” juga mendapatkan duit. Sama-sama menjual kopi, kira-2 mana yg harganya lebih mahal ? tentu jawabannya adalah kopi Starbucks, kenapa ? karena kopi itu bukan kopi polosan alias komoditas belaka. Ini kopi sudah di jual melalui proses pembentukan value dan bukan dijual ala aduang polose.
Contoh lain bisa kita dapati pada produk “Gulaku”. Mengapa kita mau membeli gula yg lebih mahal hanya karena ada merek ”Gulaku” ? kenapa sama-2 gula koq tidak lagi membeli kiloan di toko sebelah kayak dulu ? Yap betul sekali, karena didalamnya mengandung unsur value. Bukan didalam kandungan gulanya ada tertulis komposisi terdiri dari bahan yg disebut value, bukan itu ( dan jangan dilihat di kemasannya lalu dicari apa ada bahan yg namanya value itu). Artinya bagi sebagian kita membeli ”Gulaku” karena lebih higienis, lebih bersih, lebih tepat ukurannya, lebih meyakinkan rasanya dsb dst. Itulah yg disebut value.
Nah, kembali pada pembahasan tentang diri kita diatas, bagaimana ini menyikapinya ? mau jualan komoditas ataukah value ? Rasanya pilihan koq lebih tepat bagi kita untuk berkarir-bekerja-memposisikan diri adalah dengan semaksimal mungkin memberdayakan sumber daya yg kita miliki untuk menciptakan value sehingga kita akan “dihargai” lebih mahal. Bukan bekerja ala kadarnya-apa adanya sebagaimana produk komoditas alias bekerja versi aduang polose.
Pelayanan Judes
Saya mendapati suatu toko yang menyediakan kebutuhan sehari-hari dengan harga yang barang-barangnya lumayan murah bila dibandingkan dengan yang lain. Di samping itu si pemilik toko juga membuka usaha lain di bidang jasa laundry pakaian kiloan. Secara proses, dan hasil si empunya ini mempunyai nilai produk yang bagus. Dengan harga yang murah konsumen bisa mendapatkan barang dengan kualitas yang sama bila dibandingkan dengan toko yang lain. Juga untuk hasil jasa laundrynya, harga bersaing, hasilnya bagus, dan servicenya cepat serta janjinya ditepati.
Saya berani bertaruh bahwa yang ada dalam benak Anda, pastilah dugaan bahwa toko dan usaha laundrynya sangat ramai oleh pesanan dan konsumen. Ya..Anda memang tidak salah, bahwa usahanya sangat ramai……pada awalnya. Lho… kenapa memang? Dalam proses perjalanannya, rata-rata konsumen merasakan adanya hal yang mengganggu hati mereka. Apakah itu? Sesuatu yang telah mengubah suatu kualitas bagus menjadi dijauhi. “Ah..enggak ah, kalau nggak kepepet aku nggak akan beli disana. Lebih baik mahal dikit deh daripada sakit ati. Mana mungkin ibunya Andre beli disana lagi.” Begitulah komentar-komentar miring mereka yang merasa kecewa pada akhirnya. Saya coba tanya, kenapa kok tidak mau lagi membeli atau me-laundrykan ke tempat itu. Ternyata hanya satu kata yang membuat mereka enggan kesana. Yaitu “Judes”.
Saya berani bertaruh bahwa yang ada dalam benak Anda, pastilah dugaan bahwa toko dan usaha laundrynya sangat ramai oleh pesanan dan konsumen. Ya..Anda memang tidak salah, bahwa usahanya sangat ramai……pada awalnya. Lho… kenapa memang? Dalam proses perjalanannya, rata-rata konsumen merasakan adanya hal yang mengganggu hati mereka. Apakah itu? Sesuatu yang telah mengubah suatu kualitas bagus menjadi dijauhi. “Ah..enggak ah, kalau nggak kepepet aku nggak akan beli disana. Lebih baik mahal dikit deh daripada sakit ati. Mana mungkin ibunya Andre beli disana lagi.” Begitulah komentar-komentar miring mereka yang merasa kecewa pada akhirnya. Saya coba tanya, kenapa kok tidak mau lagi membeli atau me-laundrykan ke tempat itu. Ternyata hanya satu kata yang membuat mereka enggan kesana. Yaitu “Judes”.
Kamis, 05 Agustus 2010
Asal dan bukan Asal-asalan
Dear friends,
Dalam keseharian kita, kata “asal” setidaknya memiliki 2 pengertian makna. Makna pertama dari kata ”asal” adalah awal mula, dan dalam konteks pembicaraan yg sering kita temui adalah pada saat kita mengenal orang yang baru kita temui. Pertanyaan kita biasanya adalah, ”asal dari mana Dik ?”, atau ”lho orang tua memangnya dari mana asalnya koq bisa sampai disini?”. Bisa juga saat melihat benda-2 yg antik, biasanya kata asal juga digunakan untuk menanyakan dari mana benda ini didapat awalnya, misal ”patung antik ini dari mana asalnya ya ?” dsb.
Makna kedua dari kata ”asal” adalah sembarang, sekedar, sekenanya dan makna yang sejenisnya. Misal ada yg tanya, ”dari mana kamu dapatkan cewek secantik itu ?” lalu dijawab ”ya asal sambit aja di jalan”. Atau juga ”lha kamu sih asal saja....makanya hasilnya kayak gini”, dst.
Tetapi beberapa tahun lalu ada sedikit ekstensi makna kata ”asal”, yakni berarti sesuatu yg lucu dan aneh. Masih ingat acara yang di presenteri oleh almarhum Taufiq Savalas ? ya, dia menjadi host acara komedi di salah satu stasiun TV yg di namai ”asal”. Disana ditampilkan berbagai tampilan yg aneh dan lucu, mulai dari yang mirip-2 wajah artis maupun atraksi yang aneh-2.
Lalu, makna mana yang akan di ulas tulisan hari ini ? lebih enak yg dekat-2 aja dengan keseharian pekerjaan kita deh.
(1) Mari kita renungkan, barangkali diantara kita ada yg pernah (semoga tidak sering) berpikir, ”ah asal gak terlambat masuk kantor sudah lumayan”, atau ”yang penting kalo meeting asal gak kelihatan ngantuk saja sudah bagus koq”. Mungkin ada juga yang ” yah...asal keluar kantor jam 11 siang puter-2 sebentar balik jam 3 sore kalo pas dapat prospek wis ngalkamdulillah banget”. ”asal bisa kirim laporan gak telat amat, sudah syukur deh..semoga gak di cek atasan”. Bisa juga ada yg bilang ”sudahlah yang penting asal setor muka serius pasti dikira kerja keras koq”, dsb dst dan asal-2 yang lain.
(2) Tetapi misal ada yang (mohon maaaaf banget nih ya.. ) sempat berpikir atau berperilaku yg demikian itu, apakah juga pernah berpikir ”asal’ itu dengan angel atau sudut pandang yang berikut ini ya ? misal, ”pokoknya nih ya..saya ini asal gajian gak sampe telat seminggu aja sudah syukuuur banget”. Atau nih ”sudahlah asal gak kena PHK saja mau golongan gak dinaikkan sampe 10 tahun, saya ini sudah senang disini”. Atau ada lagi nih ” asal gak di potong saja gajiku ini..gak naik-2pun aku bisa ngerti banget koq dengan perusahaan ini”. Top banget nih yang ginian.
Nah sekarang mari kita cek, antara paragraf no.1 dan no. 2 diatas jika dibandingkan kira-2 kecenderungan kita dalam bekerja itu lebih sesuai dengan yang mana ya ? terus jika ada pertanyaan kalau kita itu bertendensi lebih cocok dengan paragraf no. 1 tetapi kita tidak setuju alias menolak tindakan paragraf no.2, bagaimana kira-2 ya ? Artinya, mau bekerja dengan cara abal-abal tetapi tidak mau hasil yang asal-asal. Khan lucu bin aneh jadinya ? kalau saja Taufiq Savalas masih hidup barangkali kita bisa jadi bintang tamunya untuk turut memeriahkan acara ”asal”. Karena tingkah polah demikian itu sungguh menggelikan.
Jika memang benar kita berperilaku demikian ( amit-amit semoga tidak sih...), seandadinya para stake holder kita dirumah bertanya, ”kenapa sih Pak/Bu/Mas/Mbak/Kak/Ayu/Bli/Mbok dll....karirnya koq dari jadul sampai sekarang begini-2 saja ?”. Dan kita dengan mantap menjawab. ” ketahuilah wahai para stake holder-ku bahwa kalau aku pergi pagi-pulang sore itu sebenarnya hanya untuk mengejar status asal bekerja” . Lalu para pemangku kepentingan tersebut serempak mengucap “Haaaah.....L ” (sambil sayup-sayup terdengar sound track lagu Nugie mengalun...tertipuuuuuu...).
Dalam keseharian kita, kata “asal” setidaknya memiliki 2 pengertian makna. Makna pertama dari kata ”asal” adalah awal mula, dan dalam konteks pembicaraan yg sering kita temui adalah pada saat kita mengenal orang yang baru kita temui. Pertanyaan kita biasanya adalah, ”asal dari mana Dik ?”, atau ”lho orang tua memangnya dari mana asalnya koq bisa sampai disini?”. Bisa juga saat melihat benda-2 yg antik, biasanya kata asal juga digunakan untuk menanyakan dari mana benda ini didapat awalnya, misal ”patung antik ini dari mana asalnya ya ?” dsb.
Makna kedua dari kata ”asal” adalah sembarang, sekedar, sekenanya dan makna yang sejenisnya. Misal ada yg tanya, ”dari mana kamu dapatkan cewek secantik itu ?” lalu dijawab ”ya asal sambit aja di jalan”. Atau juga ”lha kamu sih asal saja....makanya hasilnya kayak gini”, dst.
Tetapi beberapa tahun lalu ada sedikit ekstensi makna kata ”asal”, yakni berarti sesuatu yg lucu dan aneh. Masih ingat acara yang di presenteri oleh almarhum Taufiq Savalas ? ya, dia menjadi host acara komedi di salah satu stasiun TV yg di namai ”asal”. Disana ditampilkan berbagai tampilan yg aneh dan lucu, mulai dari yang mirip-2 wajah artis maupun atraksi yang aneh-2.
Lalu, makna mana yang akan di ulas tulisan hari ini ? lebih enak yg dekat-2 aja dengan keseharian pekerjaan kita deh.
(1) Mari kita renungkan, barangkali diantara kita ada yg pernah (semoga tidak sering) berpikir, ”ah asal gak terlambat masuk kantor sudah lumayan”, atau ”yang penting kalo meeting asal gak kelihatan ngantuk saja sudah bagus koq”. Mungkin ada juga yang ” yah...asal keluar kantor jam 11 siang puter-2 sebentar balik jam 3 sore kalo pas dapat prospek wis ngalkamdulillah banget”. ”asal bisa kirim laporan gak telat amat, sudah syukur deh..semoga gak di cek atasan”. Bisa juga ada yg bilang ”sudahlah yang penting asal setor muka serius pasti dikira kerja keras koq”, dsb dst dan asal-2 yang lain.
(2) Tetapi misal ada yang (mohon maaaaf banget nih ya.. ) sempat berpikir atau berperilaku yg demikian itu, apakah juga pernah berpikir ”asal’ itu dengan angel atau sudut pandang yang berikut ini ya ? misal, ”pokoknya nih ya..saya ini asal gajian gak sampe telat seminggu aja sudah syukuuur banget”. Atau nih ”sudahlah asal gak kena PHK saja mau golongan gak dinaikkan sampe 10 tahun, saya ini sudah senang disini”. Atau ada lagi nih ” asal gak di potong saja gajiku ini..gak naik-2pun aku bisa ngerti banget koq dengan perusahaan ini”. Top banget nih yang ginian.
Nah sekarang mari kita cek, antara paragraf no.1 dan no. 2 diatas jika dibandingkan kira-2 kecenderungan kita dalam bekerja itu lebih sesuai dengan yang mana ya ? terus jika ada pertanyaan kalau kita itu bertendensi lebih cocok dengan paragraf no. 1 tetapi kita tidak setuju alias menolak tindakan paragraf no.2, bagaimana kira-2 ya ? Artinya, mau bekerja dengan cara abal-abal tetapi tidak mau hasil yang asal-asal. Khan lucu bin aneh jadinya ? kalau saja Taufiq Savalas masih hidup barangkali kita bisa jadi bintang tamunya untuk turut memeriahkan acara ”asal”. Karena tingkah polah demikian itu sungguh menggelikan.
Jika memang benar kita berperilaku demikian ( amit-amit semoga tidak sih...), seandadinya para stake holder kita dirumah bertanya, ”kenapa sih Pak/Bu/Mas/Mbak/Kak/Ayu/Bli/Mbok dll....karirnya koq dari jadul sampai sekarang begini-2 saja ?”. Dan kita dengan mantap menjawab. ” ketahuilah wahai para stake holder-ku bahwa kalau aku pergi pagi-pulang sore itu sebenarnya hanya untuk mengejar status asal bekerja” . Lalu para pemangku kepentingan tersebut serempak mengucap “Haaaah.....L ” (sambil sayup-sayup terdengar sound track lagu Nugie mengalun...tertipuuuuuu...).
Minggu, 01 Agustus 2010
Menghormati yang Lebih
Oleh : Sujadi
Pernah saya mendapati seseorang yang begitu getol untuk memperebutkan jabatan Kepala Desa. Beberapa kali dia mengikuti pemilihan, tetapi tak satupun dewi fortuna menghampirinya. Sudah banyak harta benda yang tersita kesana. Pada suatu kesempatan iseng-iseng saya bertanya. Pak, apa sih yang membuat “sampean” begitu bernafsu menjadi kepala desa. Apa ingin dapat proyek? Apa biar dapat bengkok? Atau apa sih pak? Begitu tanya saya beruntun.
Mas…kamu belum sampai kesana untuk mengetahuinya? Begitu dia membuka jawaban. Belum sampai kesana? Memangnya sampai mana sih Pak? Tanya saya lagi. Ya tentu kamu belum bisa mengerti, bahwa saya itu tidak mengejar materi, proyek dan lain-lain…tetapi saya hanya ingin di panggil Pak Lurah. Saya memang tidak mengerti arti jawabannya saat itu, tetapi belakangan saya menyadari bahwa si Bapak itu kemungkinan ingin lebih dihormati dengan cara dipanggil Pak Lurah. Sebutan Pak Lurah begitu agung dimatanya. Terbayang sapa-sapa disetiap acara dan kesempatan terasa begitu indahnya.
Pada setiap waktu saya banyak mengamati bahkan merasakan, bahwa seseorang akan ditempatkan pada posisi tertentu karena dia mempunyai kelebihan. Dihormati lebih. Tetapi dalam kenyataan juga penghormatan itu ada yang bersifat keterpaksaan dan ketulusan. Menghormati yang lebih tua, menghormati yang lebih berpangkat, menghormati yang lebih berharta, menghormati yang lebih berilmu, menghormati yang lebih santun, menghormati yang lebih kuat dan lain-lain. Menjadi insan yang mempunyai kelebihan, salah satu prasyarat untuk dihormati orang. Bila negara, Singapura contoh baiknya. Betapa banyak kelebihan di negara kecil itu.
Rasanya kehormatan itu bisa dicapai dengan terus belajar, mengasah ketrampilan, merubah sikap ke arah yang lebih baik dan positif. Agar penghormatan yang kita terima merupakan penghormatan ketulusan bukan penghormatan keterpaksaan apalagi ketakutan. Dan itu semua tanpa arti bila tidak dilandasi rasa penghambaan pada yang Maha Mengerti
Pernah saya mendapati seseorang yang begitu getol untuk memperebutkan jabatan Kepala Desa. Beberapa kali dia mengikuti pemilihan, tetapi tak satupun dewi fortuna menghampirinya. Sudah banyak harta benda yang tersita kesana. Pada suatu kesempatan iseng-iseng saya bertanya. Pak, apa sih yang membuat “sampean” begitu bernafsu menjadi kepala desa. Apa ingin dapat proyek? Apa biar dapat bengkok? Atau apa sih pak? Begitu tanya saya beruntun.
Mas…kamu belum sampai kesana untuk mengetahuinya? Begitu dia membuka jawaban. Belum sampai kesana? Memangnya sampai mana sih Pak? Tanya saya lagi. Ya tentu kamu belum bisa mengerti, bahwa saya itu tidak mengejar materi, proyek dan lain-lain…tetapi saya hanya ingin di panggil Pak Lurah. Saya memang tidak mengerti arti jawabannya saat itu, tetapi belakangan saya menyadari bahwa si Bapak itu kemungkinan ingin lebih dihormati dengan cara dipanggil Pak Lurah. Sebutan Pak Lurah begitu agung dimatanya. Terbayang sapa-sapa disetiap acara dan kesempatan terasa begitu indahnya.
Pada setiap waktu saya banyak mengamati bahkan merasakan, bahwa seseorang akan ditempatkan pada posisi tertentu karena dia mempunyai kelebihan. Dihormati lebih. Tetapi dalam kenyataan juga penghormatan itu ada yang bersifat keterpaksaan dan ketulusan. Menghormati yang lebih tua, menghormati yang lebih berpangkat, menghormati yang lebih berharta, menghormati yang lebih berilmu, menghormati yang lebih santun, menghormati yang lebih kuat dan lain-lain. Menjadi insan yang mempunyai kelebihan, salah satu prasyarat untuk dihormati orang. Bila negara, Singapura contoh baiknya. Betapa banyak kelebihan di negara kecil itu.
Rasanya kehormatan itu bisa dicapai dengan terus belajar, mengasah ketrampilan, merubah sikap ke arah yang lebih baik dan positif. Agar penghormatan yang kita terima merupakan penghormatan ketulusan bukan penghormatan keterpaksaan apalagi ketakutan. Dan itu semua tanpa arti bila tidak dilandasi rasa penghambaan pada yang Maha Mengerti
Langganan:
Postingan (Atom)