Rabu, 27 Oktober 2010

Dikritik... Menyakitkan sih, tapi Nyaman

M. Jei

Sering dalam akhir perkataan atau pada saat-saat tertentu seseorang mengatakan, saya mengharapkan kritik dan masukan, mohon koreksinya ya Pak atau ibu, dsb dst. Bila jujur barangkali akan ada beberapa kondisi. Pertama dari pihak yang dimintai kritikan alias pengkritik. Seseorang yang mengkritik bisa mempunyai tujuan yang bermacam-macam. Ada yang sekedar "ngenyek", ada yang karena sakit ati, ada yang basa-basi dan ada juga yang memang berniat tulus agar lebih maju. Kedua adalah pihak yang meminta kritik. Sama seperti sebelumnya, yang minta kritikan ini juga macam-macam ada yang basa-basi juga sebagai pemanis perkataan, ada yang latah, dan ada yang memang mengharapkan masukan dari orang lain agar dirinya tahu kekurangannya.

Namun dari kesekian maksud dan tujuan kritikan ternyata untuk mengkritik dan dikritik bukan perkara mudah. Coba kita telusuri satu per satu. Konon kata ahli psikolog bahwa manusia cenderung mempunyai sifat defensive artinya sifat membela diri. Tak terkecuali terhadap kritikan. Aneh memang katanya minta dikritik tetapi setelah dikritik malah marah, ngambek dsb. Eh..kamu itu kata si Anu orangnya gini-gini lho... mbok iya kamu rubah sikapmu itu. Apa reaksi kita? Biasanya kita akan membela diri.. betul? Tidak perlu saya jelaskan secara lebih mendetail, karena setiap orang mempunyai cara sendiri-sendiri dalam bereaksi. He..he.. apalagi perempuan. Lebih TOP BGT. Ya.. Anda benar... sayapun juga merasakan hal demikian (red..kadang-kadang). Anda juga harus jujur...saya yakin 100% Andapun juga demikian. Ngaku aja dech...he...he..

Lha terus..gimana dong? Kadang-kadang Kritik dan Kripik memang beda tipis. Hanya beda di huruf "t" dan "p". Kalau kripik enak, gurih tetapi kalau kritik pahit, menyakitkan. Itulah watak kritik. Seperti halnya jamu. Tentu kita semua pernah minum jamu. Jamu rasanya pahit beda dengan syrup yang segar dan manis. Tetapi dengan rutin minum jamu badan menjadi segar, sehat sehingga daya tahan tubuh semakin bagus. Barangkali sama dengan kritikan, bila sering dikritik dengan dimaknai sebagai masukan untuk memperbaiki diri rasanya akan terus meningkatkan kualitas kemanusiaan. Tetapi saya juga setuju tidak semua jamu boleh kita minum. Jamu sari rapet tentu tidak cocok buat wanita yang sangat kurus.

Yang tidak kalah pentingnya lagi, saat kapan harus mengkritik, kepada siapa kritikan itu dan bagaimana caranya. Bagi yang tidak terima kritikan dianggap sebagai penghinaan, fatalnya lagi jika mentalnya nggak sanggup, ia akan merasa diholimi, disakiti, disalah-salahkan akhirnya ia depresi merasa tidak berguna, loyo dsb. Namun bagi yang menerima, kritikan dianggap sebagai jamu yang harus dia minum agar semakin kuat, semakin bagus dan semakin sukses. Tapi ingat sekali lagi... minum jamu pun ada waktunya, dan ukurannya.

Bagaimana pendapat lain Anda?

Sabtu, 23 Oktober 2010

Kroco Mumet

Anang Yunianto

Pernahkah Anda mendengar atau membaca istilah yang mungkin terkesan masih asing yakni ‘Kroco Mumet’? tidak tahu asal mulanya dari mana sehingga saya juga kesulitan menemukan rujukan makna yang sebenarnya. Tetapi memperhatikan gabungan kata dan rasa bahasa yang muncul dari keduanya, mungkin kita bisa menerka-nerka makna yang dikandungnya. Kata kroco mengacu pada binatang sejenis keong yang dalam beberapa istilah lain juga disebut kreco, kul atau keong sawah. Karena tempat hidupnya di area persawahan, lumpur sungai atau selokan, maka kata Kroco disini dijadikan personifikasi orang yang berada pada strata rendahan. Rendahan ini lebih mengarah pada sebuah posisi / jabatan dalam struktur kepegawaian. Sehingga kata kroco menyasar dengan tepat sebagai simbol orang berpangkat rendah.

Sementara kata ‘mumet’ relatif sudah meluas yang diartikan pusing, puyeng, penuh pikiran, sumpek dan sejenisnya. Kata mumet menggambarkan tingkat kesulitan, situasi penat yang didera seseorang dan mengarah pada kebuntuan penyelesaian. Mumet juga berarti putar-putar ( muter-muter, bhs Jawa ) yang mengandung makna bahwa karena kesulitan yang ada itupun sudah diupayakan jalan penyelesaiannya dengan cara kesana-kemari tetapi seakan menghadapi jalan buntu dalam kesendirian pula.

Menggabungkan 2 kata kroco dan mumet menjadi satu, sudah bisa dibayangkan situasinya dimana ada orang yang berpangkat rendah-pekerjaan rendahan mengalami kesulitan yang luar biasa hebatnya dan sudah berusaha mencari jalan keluar kemana-mana tetapi tidak ketemu juga. Ternyata setelah saya pikir-pikir mendalam, kata kroco mumet ini bisa menggambarkan kisah pilu orang rendahan dengan gamblang, spesifik dan penuh penghayatan. Hebat betul penemu gabungan kata ini.

Karena situasi sebagai kroco mumet ini mungkin saja pernah terjadi pada kita yang membaca tulisan ini atau bahkan sering dialami, maka apakah kita mau situasi tersebut terus mendera kita secara berkelanjutan ? lalu apa jalan keluar yang memungkinkan kita tidak terus menerus menghadapinya ?

Secara logic maka jawabannya adalah jangan mau menjadi kroco dan jangan pernah mau untuk mendapati situasi mumet. Cukup singkat-padat bukan ? tetapi tidak cukup menjawab rasanya ya....baiklah kita urai lagi jika demikian.

Sebenarnya kita menjadi pekerja rendahan, pegawai menengah atau pejabat tinggi adalah sebuah pilihan yang kita tentukan sendiri. Coba kita cek, apakah ada peraturan di negeri ini yang melarang dengan jelas nama kita tidak boleh menduduki posisi yang baik-terhormat di perusahaan hebat atau sebuah lembaga yang terhormat ? rasanya koq tidak ada. Atau kalau kita memang sudah sangat muak dan merasa tidak cocok sebagai pekerja rendahan dan merasa bisa menjadi pejabat tinggi lalu mengambil tindakan untuk merubah dan menggapainya, apakah ada aturan yang melarangnya ? so tempat kita saat ini dalam posisi suka atau tidak suka sebenarnya adalah pilihan kita dan jika sudah tidak suka sebenarnya dengan mudah kita bisa merubahnya bukan ? ( keluar dari pekerjaan ini lalu mencari yg lain yang kita anggap cocok, dst ). Kita menjadi kroco karena kita mau dan dengan sadar kita memilihnya !

Pilihan lain sangat terbuka untuk tidak terus menetapkan diri sebagai kroco, bagaimana caranya ? mari kita belajar meningkatkan kualitas diri kita untuk keluar dari sarang pemikiran kroco, berusaha dengan keras untuk tidak lagi pantas disebut kroco, bersungguh-sungguh melakukan metamorfosis diri untuk meninggalkan jejak perilaku kebiasaan kroco. Berubahlah secara total dengan bentuk tindakan nyata untuk memperbaiki diri dengan penuh kesadaran-kesungguhan untuk tidak terus pantas menduduki posisi kroco. apa bisa ? sudah banyak bukti dimana seorang pekerja rendahan bisa mencapai puncak prestasi di perusahaan-2 ternama di negeri. Sehingga mau jadi kroco atau bukan adalah pilihan yang sadar yang kita sendiri memilihnya. Sekarang ubah pilihan itu dengan mengatakan dengan jelas dan membuktikan dengan nyata bahwa kita tidak mau jadi kroco lagi.

Mumet, bagaimana lagi ini mangatasinya ? mumet sebagai gambaran tentang kesulitan hanya bisa diatasi hanya dengan kita tahu caranya. Mumet karena pengetahuan kita sangat minim terhadap persoalan yang kita hadapi. Pengetahuan yang minimalis berhadapan dengan persoalan yang kompleks selalu akan berakhir dengan mumet. So, kalau begitu bagaimana ? tidak ada cara lain kecuali meningkatkan pengetahuan-ketrampilan-cara-2 menghadapi masalah. Akhirnya seberapapun besarnya masalah jika ketemu dengan tingkat pengetahuan-ketrampilan-keahlian yang tinggi maka masalah itu menjadi kecil adanya. Bukankah pekerjaan menambal ban sepeda saja sangat sulit bagi orang yang tidak tahu caranya ? dan bukankah itu menjadi mudah ditangan tukang tambal ban meski mungkin beliau tidak lulus untuk sekedar sekolah dasar. Untuk itu mari kita tingkatkan pengetahuan-ketrampilan-keahlian (kompetensi ) kita sehingga dengan demikian situasi mumet akan hilang dengan sendirinya. Ingat, mumet terjadi karena salah satunya kita selalu menggunakan cara-cara lama untuk menyelesaikan persoalan-persoalan baru. Untuk itu solusinya adalah perbaharui cara-cara kita sehingga selalu kompatible-cocok dengan situasi yang baru.

Dengan demikian, jika kita dengan sungguh-sunnguh memilih untuk memantaskan diri untuk tidak lagi disebut kroco, memantapkan diri untuk terus belajar memperbaharui kompetensi, maka istilah kroco mumet akan segera berlalu dari kita. Kroco mumet ? tidak lagi tuh....

Terima kasih.

Jumat, 22 Oktober 2010

Pengamen Professional

Anang Yunianto

Kali ini saya akan berbagi cerita yang saya dapatkan sewaktu saya melakukan perjalanan dinas ke Makassar untuk berbagi-menambah ilmu dengan teman-tman Sulawesi-Ambon-Papua pada minggu ini (pertengahan bulan Oktober ini). Saat itu saya dan 2 orang kawan sedang ingin wisata kuliner dengan mencicipi makan pagi berupa nasi kuning yang katanya sangat terkenal di kota ini yakni nasi kuning Riburane yang warung-nya terletak di dekat area pelabuhan. Benar juga warung makan ini terlihat ramai oleh para pecinta nasi kuning.

Baru saja kami duduk, terlihat seorang pengamen yang terbilang masih muda datang lalu duduk di dekat pintu keluar sambil menyiapkan diri dengan gitar tuanya untuk menyanyi. Kami bertiga saling berpandangan saat melihat adanya pengamen yang kami pikir akan mengganggu kenyamanan makan pagi kala itu, karena sudah biasa kalau di tempat makan ada pengamen pasti serba tidak nyaman rasanya. Secara otomatis saya sudah langsung cek dompet apakah ada uang receh yang biasa diberikan kepada pengamen saat dia selesai beraksi. Sungguh repot saya saat itu karena tidak ada uang receh sama sekali. Saya pikir ya sudah nanti saja selesai bayar makan saja saya berikan uang receh kembalian.

Begitu sang pengamen mulai memetik gitar dan mengeluarkan suaranya.....saya dan teman-2 mulai tergelitik melihatnya-mendengarkan lebih jelas suaranya. Sungguh luar biasa, diluar dugaan, dentingan gitarnya sangat bagus dan suaranya sangat oke banget. Jika boleh bertaruh, maka kelompok pengamen Klantink yang masuk di salah satu acara televisi pencari bakat, saya bisa katakan kalah jauh dari pengamen ini. Sungguh kami jadi terpukau dengan kemampuan pengamen ini. Kami jadi terhibur dengannya dan sedikit mendiskusikan keahliannya. Saya perhatikan pengunjung warung ini sepakat dengan saya yang juga merasakan nikmatnya lantunan lagu-2 barat yang dibawakannya.

Satu per satu pengunjung warung yang selesai menikmati makan nasi kuning-nya selalu menaruh uang di kotak yang telah disediakan. Kami bertiga-pun malah masing-2 juga menaruh uang dalam jumlah yang tidak terbilang receh untuk ukuran pemberian kepada pengamen. Di dalam kotak-nya saya melihat memang bukan sekedar uang receh yang terkumpul disana, banyak diantaranya malah dalam jumlah yang besar. Saya berkesimpulan bahwa orang-2 yang memberikan uang kepada pengamen ini pasti mirip dengan kami bertiga, kami puas-senang mendengarkan lagu-2 yg dibawakannya dengan penuh penghayatan dan kemerduan.

Dalam perjalanan pulang ke Jakarta selesai dari warung pagi itu juga, di pesawat saya berpikir keras tentang kejadian itu. Yang semula kami meremehkan kehadirannya menjadi sangat ingin terus mendengarkan merdu suaranya, yang semula kami merasa terganggu dengan keberadaanya malah berbalik senang-terhibur karenanya, yang semula kami cari-carikan uang receh untuknya menjadi rela merogoh lebih besar dari biasanya. Kesimpulan sementara saya adalah karena pengamen tersebut begitu hebat mengeluarkan kemampuannya, begitu memukau memainkan peran tugasnya alias profesional dalam pekerjaannya.

Dear rekan-rekan sekalian,

Mari kita renungkan sejenak sekelumit cerita diatas, bahwa sekecil apapun diri kita, serendah apapun posisi kita, seremeh apapun jenis pekerjaan kita tetapi jika dilakukan dengan penuh kesungguhan, dipahami dengan penuh kesadaran, dilengkapi dengan segala kemampuan maka yang awalnya rendah itu bisa menjadi sangat tinggi nilainya. Saat seseorang memiliki nilai maka sebesar itu pula penghargaan yang akan di terimanya. Seorang Driver adalah sebuah pekerjaan yang sarat dengan nilai-nilai pelayanan. Pertanyaanya adalah bagaimana kira-kira penghargaan pelanggan yang kita layani saat ini terhadap kita? itulah pertanda kepantasan nilai kita. Jika pelanggan selalu merasa terbantu dengan ringan-tangannya kita, puas dengan senyum ramah layanan kita, selalu senang menerima kehadiran tepat waktu kita, bangga dengan seragam dan tampilan rapi kita, maka pantaslah kita menyadang kata profesional disana. Bukankah sang pengamen yang saya temui tersebut dapat kita sebut sebagai pengamen profesional karena kemampuan dan cara-cara menampilkan kemampuannya ?

Mari kita pantaskan diri kita pada sesuatu yang bernilai dengan terus berusaha meng-optimalkan kemampuan diri kita, memaknai kehebatan pekerjaan kita dan melakukan yang terbaik di setiap waktunya, lalu perhatikan apa yang terjadi.

Sabtu, 16 Oktober 2010

Belajar Sukses dari Alam

Menarik sekali acara sharing di kantorku siang tadi. Saling berbagi membahas topik Belajar Sukses dari Alam. Materi dibawakan secara apik oleh trainer muda kami Dwi Ary Wibawa dengan meresume e-book karangan Dadang Kadarusman. Dengan dihadiri beberapa orang nampak sekali hidup diskusi siang tadi, dengan diselingi guyonan-guyonan khas anak muda. Anda tahu..guyonan anak muda itu, cirinya adalah guyonan spontan, mencontohkan diri sendiri atau orang lain, dan biasanya tidak mau kalah..namun penuh warna dan bermakna… mari kita tertawa dulu.

Bahwa kesuksesan itu berdimensi sukses pribadi artinya menjadi pribadi yang unggul, sukses secara sosial, dan sukses spiritual, sukses dalam berhubungan dengan Tuhan. Alam telah mengajarkan contoh-contoh kesuksesan. Simak saja bagaimana pohon pisang tidak akan mati sebelum berbuah dan menghasilkan tunas-tunas baru. Itu menandakan suatu kepantangan menyerah di setiap proses. Selagi belum berhasil pantang untuk berhenti. Badai dan topan, jalanan yang terjal bukan suatu hambatan dalam perjalanan mencapai tujuan. Bisa juga berguru kepada sang ayam jantan. Bagaimanapun ayam jantan akan selalu berkokok lantang di pagi hari di saat suasana masih sangat sunyi, seolah-olah berseru mari menyambut hari dengan penuh kemenangan. Semangat yang senantiasa membara dalam meniti kehidupan ini. Jika antusiasme sudah sedemikian tinggi kesuksesan tinggal menunggu waktu saja.

Ada pertanyaan menarik dilontarkan oleh om Yagi, kalau begitu ukuran sukses itu seperti apa? Diskusi sahut menyahut untuk saling berpendapat. Ukuran sukses adalah ukuran diri sendiri tidak bisa disamakan antara yang satu dengan yang lain, kesuksesan saya dan yang saya rasakan tentu berbeda dengan kesuksesan yang orang lain rasakan, karena bisa jadi start yang berbeda ataupun sama namun di tempat yang berbeda. Jelas tidak bisa dibandingkan. Ini urai sebagian pendapat dari Mr. Petrus. Om Wandi lain lagi. Bahwa kesuksesan itu diukur seberapa nyaman, seberapa orang merasa termotivasi, seberapa orang merasa ingin meniru sepak terjang kita ketika orang itu bersama dengan kita. Ketika orang berteman dengan kita, orang tersebut merasa aman, merasa senang, merasa bahagia dan merasa ada sesuatu yang bisa diambil dari kita. Namun sebaliknya jika bertemu dengan kita orang itu merasa gerah dan gelisah maka itu belum bisa disebut sukses. Kesuksesannya hanya dinikmati sendiri belum menjadi berkah buat orang lain.

Pelajaran dari alam ini, kesuksesan adalah sebuah sikap mental, sebuah karakter akan ketekunan, pantang menyerah, penuh antusias dan hal-hal positif yang lain yang setelah itu menebarkan kedamaian dan keberkahan untuk lingkungan sekitar. Seperti yang telah dicontohkan oleh om Sigit MO dan om Gustam tentang kesuksesan tetangga-tetangga mereka dalam mengantarkan anak-anaknya menjadi orang dengan segala keterbatasannya. Artinya sukses tidak dipengaruhi oleh bibit bebet dan bobot.

Namun sebetulnya kesuksesan juga bisa kita ciptakan dan kita nikmati setiap hari. Saya merasa sukses ketika bisa menyelesaikan tulisan ini, berarti saya telah sukses kecil dalam menulis, saya telah sukses mengalahkan rasa malas, saya telah sukses membuat Anda tercerahkan he..he.. Insya Allah. Kesuksesan juga bisa menciptakan kesuksesan yang baru. Sayapun mencoba memanggil memori kesuksesan saya dari kecil hingga sekarang untuk membangkitkan antusiasme saya. Membayangkan rasanya ketika mendapat rangking 1 di kelas, membayangkan juara catur tingkat RT dan yang lain-lainnya. Meskipun itu sukses kecil tetapi membuat hati gembira dan semangat kembali, kalau dulu bisa sekarang tentu lebih bisa. Dan kesuksesan akan terus berlanjut, untuk mendapatkan kesuksesan dengan skala yang lebih besar di tempat yang lebih tinggi.

Wallahua’lam

Rabu, 06 Oktober 2010

Pelayanan Judes

Saya mendapati suatu toko yang menyediakan kebutuhan sehari-hari dengan harga yang barang-barangnya lumayan murah bila dibandingkan dengan yang lain. Di samping itu si pemilik toko juga membuka usaha lain di bidang jasa laundry pakaian kiloan. Secara proses, dan hasil si empunya ini mempunyai nilai produk yang bagus. Dengan harga yang murah konsumen bisa mendapatkan barang dengan kualitas yang sama bila dibandingkan dengan toko yang lain. Juga untuk hasil jasa laundrynya, harga bersaing, hasilnya bagus, dan servicenya cepat serta janjinya ditepati.

Saya berani bertaruh bahwa yang ada dalam benak Anda, pastilah dugaan bahwa toko dan usaha laundrynya sangat ramai oleh pesanan dan konsumen. Ya..Anda memang tidak salah, bahwa usahanya sangat ramai……pada awalnya. Lho… kenapa memang? Dalam proses perjalanannya, rata-rata konsumen merasakan adanya hal yang mengganggu hati mereka. “Ah..enggak ah, kalau nggak kepepet aku nggak akan beli disana. Lebih baik mahal dikit deh daripada sakit ati. Mana mungkin ibunya Andre beli disana lagi.” Begitulah komentar-komentar miring mereka yang merasa kecewa pada akhirnya. Saya coba tanya, kenapa kok tidak mau lagi membeli atau me-laundrykan ke tempat itu. Ternyata hanya satu kata yang membuat mereka enggan kesana. Yaitu “Judes”.