Senin, 08 November 2010

Stop Alasan - Stop Menyalahkan

M. Jei

Seringkah Anda Beralasan? Atau. Pernahkan Anda berbuat salah? Atau. Pernahkan Anda disalahkan? Sebagai manusia tentu pernah bahkan sering melakukan dan diperlakukan seperti itu. Beberapa hal telah menjadi darah daging kenapa sering memberikan alasan. Alasan menjadi ukuran akan kepiawaian orang dalam bergaul. Beralasan bisa menutupi kejelekan kita. Dengan beralasan berarti telah membela diri demi suatu kehormatan. Lalu apakah tidak baik. Tentu beralasan bisa menjadi baik atau buruk tergantung situasi dan proporsinya. Tetapi kalau boleh jujur sejujurnya kebanyakan dari alasan itu adalah untuk menutupi kekurangan-kekurangan. Saya berani bertaruh.

Berbarengan dengan alasan adalah menyalahkan. Juga sudah menjadi kebiasaan sehari-hari setiap ada masalah/problem setelah dikemukakan suatu alasan, otak kembali berputar untuk mencari pihak yang harus disalahkan? Betul khan? Saya yakin Anda tidak berani membantah pernyataan saya ini. Mari kita check di pekerjaan kita masing-masing. Selalu saja kita berdalih terhadap posisi kita dan selanjutnya mencari pihak yang bisa disalahkan.

Dari sudut pandang tertentu mencari alasan ataupun disalahkan menjadi hal yang baik jika diartikan sebagai suatu masukan untuk perbaikan diri. Namun sebagian besar orang akan sulit menerinanya. Kebanyakan yang terjadi adalah jika dalam komunitas itu saling memberikan alasan dan berakhir pada perncarian yang salah, biasanya suasana kerja kurang kondusif, bertipu muslihat dan mencari selamat sendiri-sendiri.

Saya juga merasakan penyakit berdalih dan menyalahkan ini sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Baik dalam kontek bercanda maupun serius. Kemaren malam saya berkesempatan mengikuti salah satu acara yang diselenggarakan oleh Indonesia Islamic Business Forum. Bukan ingin gaya-gayaan tapi jujur karena gratis diundang oleh salah satu kolega. Bersyukur sekali mempunyai teman yang seperti ini, tahu aja kalau saya suka ikut seminar tapi terganjal tiket. Semoga beliau senantiasa berkelimpahan rejeki. Pembicara acara ini adalah Bp. Ir. Heppy Trenggono M.Kom, CEO United Balimuda sebuah holding perusahaan yang sudah beromzet trillyunan.

Merinding dan sedikit gemetar saya saat itu. Karena seperti ditelanjangi dan betapa malunya kepada diri sendiri. Pak Heppy cerita mengapa Cina bisa begitu maju dan sangat ditakuti oleh dunia. Satu kata yang membedakan dan begitu tajamnya, kata itu adalah “karakter unggul”. Kata Pak Heppy di Cina etos kerjanya merata di semua usia. Bahkan ibu-ibu beserta seorang nenek bekerja di rumah mereka sendiri dengan memproduksi barang. Berarti jarang dong orang ngobol-ngobrol tanpa hasil.

Saya menyadari untuk menjadi orang yang “berkarakter unggul” banyak sekali godaan dan tantangannya. Yang sederhana saja Stop Alasan – Stop menyalahkan. Dan sayapun sadar bahwa saya tidak bisa merubah lingkungan saya, tanpa saya berubah duluan. Oleh karena itu mulai saat ini tolong bantu saya untuk bisa menghentikan dalih-dalih setiap kali ngomong dan menghentikan juga menyalahkan orang lain. Dari sudut pinggir seorang teman berkata.. yang penting ngerti sendiri.

Stop Alasan – Stop Menyalahkan, PASTI BISA.
Wallohua’lam

Senin, 01 November 2010

Kokohnya Merapi, Rosonya sang Juru Kunci

M. Jei

Sosok kuncen merapi ini tidak habis-habisnya dibicarakan, di warung kopi, di kantor-kantor, di pos kamling dan dimanapun tempatnya. Ketokohannya menyamai berita letusan sang gunung api sendiri. Ya… mbah Maridjan telah menjadi ikon gunung Merapi. Sosoknya yang sudah renta, namun masih tampak begitu gagah naik turun gunung. Saya tidak akan mengajak Anda untuk mengkultuskan beliau, dan juga tidak akan memberikan penilaian yang negatif akan sosoknya. Anda akan saya ajak melihat dari prespektif yang berbeda, yaitu tentang sebuah nilai kehidupan. Keren khan?

Let’s Go!

Mbah Maridjan seakan-akan tidak mau kalah dengan sahabatnya gunung Merapi, yang berdiri kokoh di tengah-tengah pulau Jawa ini. Seakan beliau akan malu meninggalkan tugas. Tugas ibarat titah yang harus dilakukan apapun resikonya. Berdosa besar jika tidak ditunaikan dengan penuh tanggung jawab. Harta benda dan nyawa menjadi kecil dan tak bernilai bila dibandingkan dengan titah yang harus diembannya, karena telah sanggup dan sudah berjanji. Memikul janji seberat gunung Merapi.

Nilai kesederhanaannya telah memupus kontroversinya sebagai orang yang keras kepala. Kebersahajaannya telah membuat decak kagum orang, para selebritis, politisi dan siapa saja yang mengenalnya. Namanya harum di akhir hayatnya. Dikenang sebagai orang yang sangat teguh pendirian, tanpa pamrih, low profile dan roso-roso.

Di balik itu semua ternyata ada juga nilai yang sepatutnya dipahami. Ketika suatu bencana datang merupakan suatu kewajiban untuk menyelamatkan diri. Seorang pemimpin sejati tentu akan mengomandoi untuk penyelamatan semuanya. Termasuk penyelamatan dirinya sendiri. Bukan berdiam diri tak berbuat apa-apa. Tim penyelamat yang datang bisa jadi bentuk pertolongan yang dikirim Tuhan, jika menolak kekonyolan yang didapat. Saya berdoa mbah Maridjan tidak termasuk yang berdiam diri karena keras kepala melainkan karena sebuah nilai yang diyakini, pantang seorang pemimpin “tinggal glanggang colong playu”. Pantang meninggalkan area pertempuran kalau masih ada anak buahnya yang berperang. Akhir hayat yang sedang sujud, semoga menjadi pertanda akan kejernihan jiwanya dan penghambaannya pada Sang Maha Kuasa.

Wallohua’lam