M. Jei
Menjadi tua itu pasti, menjadi baik itu pilihan. He..he… demikian salah satu iklan yang sudah sedikit saya modifikasi. Saya pernah menyaksikan dan menganggap orang yang hidupnya selalu diliputi keberuntungan. Sebut saja namanya Pak Amir. Sehari-hari beliau seorang wiraswasta mebel sukses tingkat desa. Menjadi tokoh masyarakat yang disegani oleh siapa saja, mulai dari kaum remaja, dewasa dan para pinisepuh.
Baiklah, akan sedikit saya sampaikan kenapa beliau diliputi keberuntungan tentu menurut anggapan saya (jareku). Pak Amir ini memiliki 3 orang anak. Ketiga anaknya sudah berkelurga, yang pertama tinggal di Jogja menjadi seorang pengusaha batik. Anak kedua tinggal di Solo mewarisi kelihaian orang tuanya sebagai wiraswasta mebel yang cukup sukses, sedangkan anak ketiga yang juga teman saya bekerja di Bea Cukai. Ini keberuntungan pertama. Keluarga yang harmonis dan sangat sejahtera. Meski Pak Amir sebenarnya hanya lulusan ST (Sekolah Teknik setingkat SLTP jaman dulu), tapi anak-anaknya bisa sekolah sampai perguruan tinggi dan favorit.
Keberuntungan kedua, Pak Amir ini selalu menjadi tempat curhat bagi warga sekitar yang punya masalah. Pembawaannya yang tenang, tutur katanya yang halus, diselingi humor dan kemampuan ekonominya yang mapan menjadi magnet para warga untuk meminta saran dan nasehat. Kenapa ini keberuntungan? Jelas, Pak Amir semakin menjadi tokoh masyarakat yang semakin disegani dan dicintai. Setiap ada acara tanpa diminta warga sudah berbondong-bondong membantunya. Dan keberuntungan yang ketiga, baru-baru ini Pak Amir menunuaikan ibadah haji yang kedua bersama istrinya gratis karena mendapatkan hadiah. Ibadah haji yang pertama juga gratis karena sebagai pembimbing jamaah haji. Cukup tiga ini saja yang saya ceritakan.
Hal yang menjadi kesepakatan warga sekitar terhadap sosok Pak Amir ini dan belum ada yang membantah adalah bahwa Pak Amir adalah orang yang baik, bahkan super baik. Meski dulu saya ingat sempat digosipkan bahwa perolehan hartanya dengan cara tidak baik dan halal yaitu pelihara Thuyul. Namun gosip itu kian hari kian menguap seiring keseharian Pak Amir yang sangat bersahaja meski berada.
Saya mencoba bertanya dan “ngangsu kawruh” ke beliau, nilai kehidupan apa yang mengantarkannya seperti itu. Beberapa hal yang saya dapatkan, tentu atas penafsiran saya sendiri. Karena tidak dirumuskan dalam pembicaraan kami. Sebenarnya nilai-nilai ini umum saja, hanya saja yang membuat beda adalah apa yang Pak Amir katakan tentu sudah dilakukan dan terus dilakukan. Berkali-kali saya selalu dipotong pembicaraan manakala sudah dianggap tidak pas lagi. Mas Jadi sebaiknya membicarakan hal lain saja ya, karena kayaknya orangnya tidak seperti itu dech. Rupanya saya sedang distop untuk tidak berprasangka. Lain kesempatan, ya sudah mas Jadi nggak usah diperpanjang maafkan saja. Toh memaafkan membuat sampeyan lebih plong khan? Rupanya saya sedang diajari bahwa memberi maaf lebih utama. Dan nilai yang paling sulit dilakukan adalah, dalam segi apapun Pak Amir akan selalu memberikan bagian yang lebih menguntungkan kepada pihak lain. Saya sempat tercengang ketika melakukan ekspor mebel ke luar negeri katanya hanya mendapatkan keuntungan 2.5% tetapi patner bisnisnya 10%, suatu kondisi yang tidak wajar dan jarang terjadi bahkan mustahil. Tak ayal jika akhirnya banyak pengusaha yang ingin berebut bekerjasama dengan beliau.
Berarti, Orang jahatpun ingin berkawan dengan orang baik.
Wallohua’alam
Kumpulan catatan-catatan sehari-hari sebagai upaya kecil dalam mewujudkan insan yang berkarakter baik lagi kuat untuk kemandirian, kehormatan dan kemuliaan. Multisales, menggambarkan bahwa hakekat setiap peristiwa adalah "PERNIAGAAN - PENJUALAN". Apapun yang kita miliki harus bisa diubah menjadi hal yang bernilai dan bermakna dengan talenta yang kita punya, yang telah diberikan oleh Tuhan sebagai tanda kesyukuran dan kemanfaatan. MULTISALES - MULTITALEN (-T)
Selasa, 28 Desember 2010
Jumat, 24 Desember 2010
Semakin Kecewa, Semakin Rugi
M. Jei
Sebelum berangkat ke pasar lazimnya seorang Ibu mengiming-imingi anaknya oleh-oleh agar mau ditinggal. Nak… adik di rumah saja ya dengan kakak, ibu pergi ke pasar dulu, nanti ibu belikan martabak kesukaanmu. Iya bu, tapi jangan lupa dibelikan lho. Jawab si anak. Antara ibu dan anak telah terjalin pengharapan yang kuat. Apa yang terjadi jika si ibu ternyata tidak membawa oleh-oleh martabak kesukaannya? Pasti si anak menangis dan kecewa. Kalau begini akhirnya mending tadi ikut ibu pergi ke pasar. Kenapa si ibu tidak membawa oleh-oleh? Tentu banyak sekali kemungkinan alasannya. Mungkin uangnya hilang, mungkin tidak ada penjual martabak, mungkin lupa dan sebagainya. Meski alasan yang dikemukakan betul, tetapi tetap saja menimbulkan kekecewaan. Si anak tak kuasa menahan perasaannya.
Bagaimana dengan kita yang sudah dewasa seperti ini? Masihkah berlaku seperti anak kecil yang selalu kecewa bila hasil tidak sesuai dengan harapan? Kecewa boleh karena bagian dari perasaan, tetapi perasaan itu tidak seharusnya dipelihara. Biarkan perasaan itu hinggap sekejap setelah itu tendang jauh-jauh keluar dari hati. Jangan biarkan bercokol lama-lama. Mengelola perasaan merupakan bagian dari seni kehidupan. Berhitunglah untung dan ruginya perasaan itu. Apakah dengan kecewa akan merubah keadaan? Kalau memang bisa merubah keadaan, kecewalah sebesar-besarnya dan setiap hari. Berhiba-hibalah pada orang bahwa Anda kecewa, setelah orang lain tahu Anda berharap orang itu atau orang lain akan mengobati perasaan Anda. Namun apa yang semakin Anda rasakan? Semakin kecewa bukan? Kenapa? Karena Anda semakin berpengharapan kepada orang, Anda semakin bergantung kepada orang. Dan setelah itu semua Anda semakin kecewa. Bila semakin kecewa maka semakin rugilah hidup Anda.
Mudah kecewa berarti gampang rugi, semakin kecewa juga semakin rugi. Tidak selayaknya menggantungkan harapan kepada pihak lain. Harus diingat pula bahwa pihak lain itupun bisa jadi menggantungkan kepada pihak lain lagi. Makanya jika salah satu rantai ketergantungan ini putus, simpul yang lainpun akan mandeg. Yang sering disebut dampak systemik. Begitulah watak kebergantungan.
Para pesohor, orang-orang top rata-rata tidak bergantung pada pihak lain, mereka tergantung pada dirinya sendiri. Pada kemampuannya, pada karakternya, pada hasil karyanya dan tentu kebergantungan kepada Tuhan YME.
Sebelum berangkat ke pasar lazimnya seorang Ibu mengiming-imingi anaknya oleh-oleh agar mau ditinggal. Nak… adik di rumah saja ya dengan kakak, ibu pergi ke pasar dulu, nanti ibu belikan martabak kesukaanmu. Iya bu, tapi jangan lupa dibelikan lho. Jawab si anak. Antara ibu dan anak telah terjalin pengharapan yang kuat. Apa yang terjadi jika si ibu ternyata tidak membawa oleh-oleh martabak kesukaannya? Pasti si anak menangis dan kecewa. Kalau begini akhirnya mending tadi ikut ibu pergi ke pasar. Kenapa si ibu tidak membawa oleh-oleh? Tentu banyak sekali kemungkinan alasannya. Mungkin uangnya hilang, mungkin tidak ada penjual martabak, mungkin lupa dan sebagainya. Meski alasan yang dikemukakan betul, tetapi tetap saja menimbulkan kekecewaan. Si anak tak kuasa menahan perasaannya.
Bagaimana dengan kita yang sudah dewasa seperti ini? Masihkah berlaku seperti anak kecil yang selalu kecewa bila hasil tidak sesuai dengan harapan? Kecewa boleh karena bagian dari perasaan, tetapi perasaan itu tidak seharusnya dipelihara. Biarkan perasaan itu hinggap sekejap setelah itu tendang jauh-jauh keluar dari hati. Jangan biarkan bercokol lama-lama. Mengelola perasaan merupakan bagian dari seni kehidupan. Berhitunglah untung dan ruginya perasaan itu. Apakah dengan kecewa akan merubah keadaan? Kalau memang bisa merubah keadaan, kecewalah sebesar-besarnya dan setiap hari. Berhiba-hibalah pada orang bahwa Anda kecewa, setelah orang lain tahu Anda berharap orang itu atau orang lain akan mengobati perasaan Anda. Namun apa yang semakin Anda rasakan? Semakin kecewa bukan? Kenapa? Karena Anda semakin berpengharapan kepada orang, Anda semakin bergantung kepada orang. Dan setelah itu semua Anda semakin kecewa. Bila semakin kecewa maka semakin rugilah hidup Anda.
Mudah kecewa berarti gampang rugi, semakin kecewa juga semakin rugi. Tidak selayaknya menggantungkan harapan kepada pihak lain. Harus diingat pula bahwa pihak lain itupun bisa jadi menggantungkan kepada pihak lain lagi. Makanya jika salah satu rantai ketergantungan ini putus, simpul yang lainpun akan mandeg. Yang sering disebut dampak systemik. Begitulah watak kebergantungan.
Para pesohor, orang-orang top rata-rata tidak bergantung pada pihak lain, mereka tergantung pada dirinya sendiri. Pada kemampuannya, pada karakternya, pada hasil karyanya dan tentu kebergantungan kepada Tuhan YME.
Jumat, 03 Desember 2010
Seribu Kawan Kurang, Satu Musuh Kebanyakan
M. Jei
Ketika pulang dari Jogja dua hari yang lalu, saya mampir di salah satu warung di daerah Magelang. Sebetulnya sudah sejak dari Jogja nafsu lapar menemani, ingin rasanya segera berhenti untuk santap sore. Namun entah mengapa selalu saja setiap kali akan berhenti nggak jadi. Ada saja hambatan, entah susah parkirnya, dan kebablasan. Sampai juga akhirnya di salah satu warung di daerah Magelang. Hujan rintik-rintik tak menghalangi niat saya untuk makan. Dalam warung itu terlihat dindingnya dihiasi beberapa foto yang wajahnya tidak asing lagi buat saya. Foto-foto itu memaksa saya untuk lebih dekat mengamatinya. Dijejer rapi dan nampak sekali menjadi kebanggaan buat pemilik maupun karyawan warung.
Dari balik pintu, keluar ibu paruh baya menyapa ramah dalam bahasa jawa halus. “Monggo nak, dipun sekecakaken” yang kira-kira maksudnya, Silakan nak, selamat menikmati. Saya berusaha tidak kalah untuk mengimbangi kesopanan dan kehalusan bahasanya. “Njih bu, maturnuwun” kamipun sebentar bercakap-cakap. “Bu, nyuwun sewu, dalem badhe ndherek tanglet” (Bu, mohon maaf saya mau bertanya), tanya saya. “Monggo” (silakan) si ibu menjawab. “Punika foto-fotonipun para priyantun agung, sami tindak mriki nggih bu? (Ini foto-fotonya tokoh-tokoh terkenal, pada sering ke sini ya bu?). “Leres nak, mriki niki warung ampiran Bapak-bapak punika… kula remen sanget dados warung pasedherekan. (Betul nak, disini merupakan tempat mampir Bapak-bapak itu… saya senang sekali menjadi warung persaudaraan).
Tinggi sekali filosofi ibu warung itu. Ya…warung persaudaraan. Si Ibu nampak begitu senang bila warungnya menjadi salah satu perekat silaturahmi, mungkin si ibu sadar betul akan kekuatan dahsyatnya networking. Setiap orang, apapun namanya, serendah apapun posisinya, dan dimanapun tempatnya berada bila dihitung-hitung jumlah temannya minimal 500 orang. Nggak percaya? Mari dibuktikan. Bagi yang sudah menikah coba lihat buku tamu resepsi pernikahannya. Bagi yang belum menikah, hitung berapa undangan yang ingin disebar. Ada 500 lebih khan? Masih nggak percaya? Coba hitung teman-teman Anda mulai dari TK, SD, SMP, SMA atau sampai tingkat tertinggi pendidikan Anda. Belum lagi ditambah teman sekampung, teman seorganisasi, teman nongkrong, teman seprofesi, teman sehobby, dll. Apalagi seseorang yang mempunyai kedudukan dan jabatan pada profesi tertentu dan di organisasi tertentu, semakin banyaklah teman-temannya.
Ternyata kitapun merasa, teman sedemikian banyakpun kurang. Coba bandingkan jika kita merasa punya musuh satu saja. Ribet, kesana-kemari wajahnya yang terbayang benar-benar menyebalkan dan selalu kepikiran. Memang dalam interaksi sehari-hari tidak bisa dipungkiri timbulnya gesekan-gesekan, gontok-gontokan, otot-ototan, itu adalah hal yang sangat wajar terjadi, namun kesemuanya bisa dikurangi dengan niatan yang baik dan tulus bahwa apapun judulnya, apapun kondisinya kita semua ingin banyak teman dan saudara. Berkawan memanjangkan umur, berteman mendekatkan jodoh, dan bersaudara mendatangkan rejeki.
Ketika pulang dari Jogja dua hari yang lalu, saya mampir di salah satu warung di daerah Magelang. Sebetulnya sudah sejak dari Jogja nafsu lapar menemani, ingin rasanya segera berhenti untuk santap sore. Namun entah mengapa selalu saja setiap kali akan berhenti nggak jadi. Ada saja hambatan, entah susah parkirnya, dan kebablasan. Sampai juga akhirnya di salah satu warung di daerah Magelang. Hujan rintik-rintik tak menghalangi niat saya untuk makan. Dalam warung itu terlihat dindingnya dihiasi beberapa foto yang wajahnya tidak asing lagi buat saya. Foto-foto itu memaksa saya untuk lebih dekat mengamatinya. Dijejer rapi dan nampak sekali menjadi kebanggaan buat pemilik maupun karyawan warung.
Dari balik pintu, keluar ibu paruh baya menyapa ramah dalam bahasa jawa halus. “Monggo nak, dipun sekecakaken” yang kira-kira maksudnya, Silakan nak, selamat menikmati. Saya berusaha tidak kalah untuk mengimbangi kesopanan dan kehalusan bahasanya. “Njih bu, maturnuwun” kamipun sebentar bercakap-cakap. “Bu, nyuwun sewu, dalem badhe ndherek tanglet” (Bu, mohon maaf saya mau bertanya), tanya saya. “Monggo” (silakan) si ibu menjawab. “Punika foto-fotonipun para priyantun agung, sami tindak mriki nggih bu? (Ini foto-fotonya tokoh-tokoh terkenal, pada sering ke sini ya bu?). “Leres nak, mriki niki warung ampiran Bapak-bapak punika… kula remen sanget dados warung pasedherekan. (Betul nak, disini merupakan tempat mampir Bapak-bapak itu… saya senang sekali menjadi warung persaudaraan).
Tinggi sekali filosofi ibu warung itu. Ya…warung persaudaraan. Si Ibu nampak begitu senang bila warungnya menjadi salah satu perekat silaturahmi, mungkin si ibu sadar betul akan kekuatan dahsyatnya networking. Setiap orang, apapun namanya, serendah apapun posisinya, dan dimanapun tempatnya berada bila dihitung-hitung jumlah temannya minimal 500 orang. Nggak percaya? Mari dibuktikan. Bagi yang sudah menikah coba lihat buku tamu resepsi pernikahannya. Bagi yang belum menikah, hitung berapa undangan yang ingin disebar. Ada 500 lebih khan? Masih nggak percaya? Coba hitung teman-teman Anda mulai dari TK, SD, SMP, SMA atau sampai tingkat tertinggi pendidikan Anda. Belum lagi ditambah teman sekampung, teman seorganisasi, teman nongkrong, teman seprofesi, teman sehobby, dll. Apalagi seseorang yang mempunyai kedudukan dan jabatan pada profesi tertentu dan di organisasi tertentu, semakin banyaklah teman-temannya.
Ternyata kitapun merasa, teman sedemikian banyakpun kurang. Coba bandingkan jika kita merasa punya musuh satu saja. Ribet, kesana-kemari wajahnya yang terbayang benar-benar menyebalkan dan selalu kepikiran. Memang dalam interaksi sehari-hari tidak bisa dipungkiri timbulnya gesekan-gesekan, gontok-gontokan, otot-ototan, itu adalah hal yang sangat wajar terjadi, namun kesemuanya bisa dikurangi dengan niatan yang baik dan tulus bahwa apapun judulnya, apapun kondisinya kita semua ingin banyak teman dan saudara. Berkawan memanjangkan umur, berteman mendekatkan jodoh, dan bersaudara mendatangkan rejeki.
Langganan:
Postingan (Atom)